Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 November 2012

Keagungan Bulan Romadhon







Sajadah yang aku hamparkan ikut serta dalam pergulatan yang ada di dalam lazuardi batinku, dan terus saja menepiskan sekumpulan “halus sutra” yang sekarang hinggap di tengah hati. Padahal tangan ini sudah sekuat daya upayaku untuk menggapai angin malam,yang akan kuuntai di dada ini, agar mampu menerbangkan aku di balik keremangan Bulan Suci Romadhon Apakah sajadah yang ada di depanku ini terus saja akan melipat tempat sujudku.

Entah roda jaman apa yang menggilasku, sementara “seteguk demi seteguk” kegilaan telah aku selipkan pada semua yang aku punya. Hingga menusuk pembuluh darahku dalam otak yang tidak seberapa kokohnya. Hingga lunglai tulang ini, nanar pandang mataku meski seluruh otot bahu telah mengencang dan melegam, keangkuhanpun sempat menyelinap masuk dalam batin,hingga mampu membuat sejuta malaikat terpelanting kembali ke langit di tengah rengkuhan “Tangan Tuhan”.

Dan sekarang, sebuah gambaran abstrak yang menggigil lantaran amarahnya yang ememuncak telah menghadangku, di tengah pintu yang akan kuliwati untuk menyongsong Adzan dif ajar Bulan Romadhon.
“Apakah engkau sudah mampu berkemas guna menempuh perjalananmu, hai manusia lancang” jawab suara itu di balik pintu.

“Aku enggan menjawabmu, lantaran warna biru hanya akan aku hiaskan pada langit ketika tiada lagi badai yang memusariku”
“Ha..ha..ha,bukankah badai pernah kau curi dan dipasangkan di tengah mahkotamu, sehingga engkaupun tak mampu menoleh lagi. Sudahkah puas engkau mainkan sandiwara warna-warni di lazuardimu.Bukankah sajadah itu telah melipatkan dan hendak menukik dan mengganjal hatimu”
“Akupun belum sepenuhnya bermandikan air suci, agar sajadah ini menjadi diriku sendiri dan menjadi teman  di tengah malam kala aku dipagut suatu kesunyian”.
Suara itupun telah lenyap. Karena kehalusan sutra di hatiku telah melilit lehernya. Tubuhnya kini menggigil dalam keputusasaan. Seribu sayap malaikatpun mampu menghalangi pandangan mataku, agar tidak lagi diculik oleh suara-suara sepanjang malam.  Bumipun kini telah menelanya dan terus membenamkan menuju perutnya

Malam bertambah pekat, namun kegelapanya menjadi semakin memudar, kala dia menyiapkan diri menerima “malam seribu bulan”. Apalagi kesyahduan di sepertiga malam kini dirasakan oleh semua daun hijau yang tadi sempat menolak berceria di sentuh angin kembara. Biarlah malam ini menjadi miliku, agar leher ini tidak lagi menolehkan leherku pada masa silam.

Maka ketika bumi kuharapkan agar berputar berlawanan arah. Matahari kujadikan pertanda kala aku harus meradang dan menerjang debu jalan hingga berterbangan karena takut dengan kehadiranku. Segelas “khamer kehidupan” telah membutakan aku dalam arah mata angin yang tak pernah pasti. Maka kehidupan yang lancang terus saja menutupi”bait-bait suci” yang seharusnya menghiasi mahkota hidup.

“Hai,,jalan menuju keagungan, dimanakah aku akan temukan engkau, bila dengus nafasku sudah tidak mampu lagi mengenalku. Bila apa yang diperintahkan di Atas sana juga belum smpat aku benahi, aku cuci, aku seterika hingga pantas kala aku kenakan pada senja berhias pelabgi warna-warni”
“Berteriaklah engkau sekuat hati hai manusia, lantaran setiap debu yang ada di jalan ini adalah Tunduk dan Tawadhu kepada Sang Pencipta” Seru sebuah ujung jalan yang berliku dan membuat hati ini penasaran untuk men
“Lantas di mana akan aku temukan itu”
“Peganglah urat nadimu dan tundukanlah anganmu yang liar, yang biasa kau kenakan kala kau menggapai nafas,  sehingga kaupun akan mendapatkan seteguk air tawar agar lebih mengerti lagi makna setiap makna di tengah sejuta makna “di tengah belantara ketidaktahuan”, kalau kau gelisah DIA yang akan membasahimu, kala kau terpanggang di tengah padang hidup yang gersang, DIA akan memberimu secawan obat mujarab hingga engkau tenang, bila enghkau tak tahu arah DIA pun akan menuntunmu dengan penuh ramah, bila engkau gundah, DIA pun akan memberikan apa saja lantaran DIA Maha Pemurah”
“Namun kedua kakiku ini sudah terlanjur terjerambab dalam kubangan “fatamorgana hidup di jaman ini”, rengkuhanya begitu kuatnya. Hingga dada ini terasa panas, tiada satupun air yang mampu membasuhnya, Tiada satu gunungpun yang mampu mengalirkan mata air pembnasuh itu”
“Engkau memang keras kepala hai manusia, dan tuli telingamu, mata hanya untuk memandang gebyar lampu taman warna-warni, ketahuilah hai “pembawa bencana”, semua yang menghalangimu mampu kau tundukan, bila suara degup jantungmu sendiri telah mampu kau dengarkan, bila darah yang mengalir di setiap nadimu telah kau jaga. Maka pergilah kamu jauh-jauh, tundukan “belantara ketidaktahuan”  dengan bilah sutra yang kini ada di sudut hatimu. Niscaya malamupun menjadi milik seribu bulan”.
Kali ini biar aku pegang sisi yang paling tajam dari pedang waktu, agar tidak menebasku dan memisahkan diriku dengan ujung jalan yang tak berdebu itu. Biarlah aku jaga pedang itu hingga suara Adzan di fajar Bulan Romadhon mampu aku dengarkan dengan jernih.

Menjaring Lazuardi AsmaMU




Langit telah membuka jendelanya, sehingga turunlah beribu berkas sinar kesyahduan diantara yang terindah selama 30 hari. Tanpa ada keraguan lagi, sinar-sinar itupun meliuk bagai kepala naga yang hendak mencari mangsanya. Walau mereka hanya berniat membawa sekeping berita kemenangan untuk diberikan kepada manusia yang berjejer dan berhias dengan kesungguhan, di balik Mahameru dengan menggambar warna langit yang biru-terharu.

Diantara gerimis wewangian bunga itu, sebentar-sebentar terdengarlah, lengkingan sejuta jubah hitam yang membelit bahu manusia, untuk meradang membiramakan nada-nada yang telah disunting dari balik kaki langit

“Akulah sinar putih dari beranda langit”

“Enyahlah,engkau sinar-penjaja ketidak- tahuan. Biarkan malam ini aku sepelaminan dengan manusia untuk mencicipi manisnya madu. Lantaran banyak manusia yang dahaga”. .Protes durjana bermuka hitam kelam. Nampak dari kedua matanya, tersorot bola api, yang mampu menembus kedalaman sebuah samudra.

“Biarlah sesukamu engkau membentang sayap, biarlah sesukamu menebar angin kembara. Sehingga mampu meniupkan manusia dalam penjelajahan tiada akhir. Aku tak berminat sedikitpun berseloroh denganmu ”

“Lantas mampukah engkau menerbangkan manusia dengan sejuta sayapmu, menuju pelabuhan  yang berhias kenikmatan dan kesyahduan.dimana manusia mampu menyandarkan angan, merebahkan badanya sambil menikmati tembang Asmarandhana, layaknya mempelai menikmati malam pertama penuh sendau-gurau”

“Enyahlah kau dari dekatku, kembalilah ke asalmu bersama bangunan istanamu, yang lama kau tinggalkan. Tiada sedikitpun kau punya hak untuk melarangku. Aku hanya mau menyunting kekasihku yang bersemayam di tiap akhir malam untuk membasahi lidahnya, mereka yang dari kedua tanganya mampu memancarkan air gunung, mereka yang setiap malam menggambarkan kanvas dengan garis penuh warna, enyahlah kau jauh-jauh !!!”...

Berdesirlah angin malam yang kuat saat itu, angin yang mengikat takbir, tahlil dan takhmid dalam satu ikatan. Lantas ujung-ujung ikatan segera saja memelantingkan “dahaga di ujung jiwa”, bagi tiap manusia yang tiada pernah lagi hirau akan episode ego,maka biar saja baju-baju mereka berenda sulaman dengan benag surga.

Sesampainya mereka di hadapan wajah wajah yang tunduk di tengah gema takbir, sinar sinar putih itupun merebahkan diri  di lantai bumi.Seketika itu bumipun bergetar, dan segera bumipun dengan dandanan yang telah pongah egera mengikuti sinar putih tersebut dalam mendekam makna.
 “Hai bumi mengapa engkau kini berdandam penuh kepongaha, warna bajumu telah luntur, sementara wajahmu kini di berhias belatung belatung kebusukan yang menjijikan. Tiada kau lupa bahwa engka dikandung alam semesta selama enam peraduan, dan engkau tempat manusia bergelantung menghirup segar nafasmu. Dari tubuhmu itulah manusia menggenapkan manka hidup, maka janganlah kamu lupakan malam ini. Malam yang berisi kesegaran untuki jiwamu yang renta”

“Benar sekali apa yang kau katakan, maka biarkan saja aku melengking menerbangkan syahwat durjanaku agar manusia terpelanting dari tepiku, dan berkelana  entah ke mana. Akupun muak dengan tabiatnya yang angkuh”.

“Sejak kapan kamu bisa bersikap keblinger seperti itu. Engkau adalah biduk nabi Nuh, ketika biduknya yang dulu kandas di puncak Himalaya. Memang engkau telah membawa beban muatan yang terpilih,  dan lagi mereka memiliki raut wajah yang beraneka-ragam. Hingga nanti saat kabut batas tersingkap, engkaupun akan melihat mereka dalam lakon hidupnya masing-masing”.

Sejenak keduanya terpagut dalam kesyahduan malam takbir penuh kunang-kunang, malam itu bertepi setiap kalbu yang telanjang dengan hanya hiasan Tawadhu, malam yang menderangi jalan temaram karena RidhoNYA.

Sesekali terdapat  juga manusia yang berkulit muka tebal, dengan pandangan mata lurus ke depan dan terkadang tengadah untuk menepis pasrah dan menyelipkan angkuh, wajah yang selalu menjinjing senyum kedurjanaan. Mereka menyimpan nafsu keduniawian dalam perutnya yang membusung, dada mereka kinipun disodorkan pada roda jaman gengan membusung, tanpa mengindahkan kehalusan untuk orang lain.

“Hai..manusia mengapa engkau demikian”, Tanya sebiuah wujud dari sudut hati mereka, saat mereka melepas lelah dari letih yang mencekam.

“Lantas aku harus berbuat apa lagi..?”

“Apa kamu tidak pernah menggunakan hatimu untuk menggambarkan akan semua yang melingkungimu dan ada apa di balik itu ?”

“Perjalanan ini sungguh meletihkan.Mana sempat aku berikan sebagian dari tubuhku, untuk mengintip sesuatu dari balik ini semua. Bukankah aku sudah memiliki jalanku sendiri untuk mencapai tujuan. Tujuanku tiada lain hanya mengakhiri keletihan ini”

“Justru saat itulah yang menjadi bagian yang sangat essensi tentang keletihanmu itu”.
“Aku mau diberi apa lagi ?”
“Nanti kamu bisa mendapatkan seteguk air penghaopus dahaga”
“Dari mana asalnya air itu ?”
“Dari yang Mencipta”
“Mengapa tidak selarang saja diberikan”
‘Karena tenggorokanmu masih menolak mendapatkan air itu !”
“Ah..biarkan..aku hanya memejamkan mata hanya sejenak..saat aku terbangun, tentunya akan menjadi bagian dari perjalananku sendiri.Biar saja aku berselimut apa yang aku sukai.Biar saja lampu-lampu taman tempatku berjalan berhias guratan penuh maghfiroh..biarkan saja “

“Tetapi bukan dengan cara memalingkan wajahmu”
“Wajahku biar saja miliku”
“Namun nanti akan menghadap sisi paling cerah, saat kamu mengakhiri babak sandiwaramu”
“Akupun sudah tahu sisi yang paling cerah itu, tidak usah kau banyak celoteh. Ikuti saja perjalanan ini”

Tiada pernah sepi kanvas wajah samudra yang membujur dari ujung satu sama lainya, dari rona manusia seperti itu. Hingga tiada beda warna malam beruntai asmaNYA dengan malam lainnya.Mereka telah membuat sinar putih menjadi meradang dan meregang karena dada mereka yang membusung, mereka telah pula menjadi kekasih hati dengan lantunan cinta jubah-jubah hitam pekat yang bergelantungan di bibir neraka.

Namun apa arti mereka semua, lebih baik manusia yang sedang menunggu panggilan untuk ,menjenguk wajah kelanggengan, untuk tetap membasahi lidah dengan Takbir, Tahlil dan Tahmid,untuk menuju gerbang fitri yang sudah berdandan ayu. Bumipun masih setia memutarkan Kodrat dan IradatNYA, tiada pernah terpaku sejengkalpun pada perjalanan mengantarkan Sunatullah.

Biarkanlah manusia manusia itu terperangkap dalam angin segar beraroma kefitrian. Merekapun kini berhias dengan pintu sorga bergurat kayu cendana bertulisan pintu untuk ahli puasa. Semoga aku salah satu manusia yang terjebak dalam Lazuardi AsmaMU.

Hantu Reformasi




“Lagu Rayuan Pulau Kelapa”  yang dibahanakan oleh RRI dan TVRI tiap tengah  malam, masih saja mampu membawa ingatan kita tentang “Bangsa dan Negara Archipelago yang  menawan ini“, yang  dahulu beberapa dasawarsa masih mampu  bernaung di erotisnya  alam hijau, dari  mulai Bukit Barisan hingga Pegunungan Roro Anteng dan Joko Seger  di Lereng Gunung tempat Sang Brahma beristirahat melepas lelah.

Tanaman bakau tak ketinggalan pula ikut meliukan  pinggangnya kala daun nyiur bercengkerama dengan angin pagi.  Datang dan pergi burung bangau dari sarangnya yang tersembunyi di sudut desa hingga sawah sawah yang tergenang air hujan, untuk tumbuhnya padi.

Hutan, ngarai, sawah dan  lading bergegas untuk memberikan senyum  tawarnya pada manusia manusia yang murah senyum, santun dan tak pernah saling melempar batu, bila terjadi silang pendapat, Sementara sang  ibupun  dengan lemah gemulai meninabobokan oroknya yang baru  berumur beberapa bulan. Mereka tidak mengenal membesarkan dan membelai anaknya di tempat sampah atau  sungai. Entah  abad yang bagaimana bila sang ibunya tega melakukan itu.

Namun apa yang banyak diungkapkan oleh syair dan fatwa para pujangga, telah mengering dan melekang disapu angin jaman, kala datanglah jaman yag dinahkodai oleh Gayus dan para pendukung,pembisik, pengusung kursi tahtanya serta para hulubalang yang buncit perutnya, berpesta pora 41 hari 41 malam, memakan daging dari bahu, lengan, paha masyarakat miskin penonton kereta revolusi. Sementara para oknum hulubalang raja lainnya berpengarai mirip hantu penghisap darah yang mampu mengeringkan sekujr tubuh korbanya, lantaran terhisap darahnya untuk peuas nafsu setan.

Nampaknya setan sudah menjadi kalah wibawa dengan penghisap darah ini. Sehingga setanpun sudah tidak mampu lagi merayu mereka. Sebab meskipun setan adalah mahluk hina, namun mereka masih memiliki perikemanusiaan, yang berbeda jauh dengan manusia yang berperikesetanan, dan oknum hulubalang raja seperti inilah yang berdiri dengan wajah garang di balik jubah hitam dan berdiri di tengah pintu kereta reformasi,seraya menyodorkan gelas gelas berisi air tuba bagi para penumpang kereta . Sehingga wajar saja bila negeri Archipelago menjadi negeri yang berkipas duri dalam debu, awan panas yang melelehkan kulit dan daging, wedus gembel dari perut neraka, lumpur  lumpur lulur bidadari yang menusuk hidung dan menyesakan dada.

Semua penonton kereta itupun menjadi kalang kabut, hingar bingar, berlarian mencari anak istri dan suaminya yang menyelinap entah kemana, kala mereka menyaksikan bumi yang naik pitam dengan ulah setan hitam pengisap darah ini.

Bumipun mengibaskan lenganya di Waisor, Mentawai, Aceh, Jogja, Pantai Pangandaran, Padang dan yang terakhir Merapi dan Bromo, yang meneteska air mata ilalang yang tak kokoh akarnya, tak tegar batangnya dan telah mengering daunya lantaran terhembus angin kereta reformasi yang tak kunjung berhenti.

Namun setan setan itu malah tertawa terkekeh, hingga keluarlah belatung dari dalam lidahnya yang terus membahanakan bau busuk menusuk hidung, menggeleparkan semua pesona negeri, lantaran sebagian ilalang lebih memilih berdiam di negeri seberang meski mereka mendapat cacian, hinaan dan aniaya dari sang empu negeri seberang tersebut.

Keretapun bertambah lambat jalanya dengan goncangan goncangan yang mulai terasa dan entah hingga kapan akan berhenti. Keretapun akan bersandar kelelahan bila sang hantu berniat mengasah hitam kukunya dan menajamkan taring penghisap apa saja yang ada di sekitarnya. Semen, aspal, baja, pupuk, mesin jahit apalagi sapi, adalah makanan sehari hari yang tanpa basa basi langsung menenggak semua oplosan tersebut, tanpa meninggalkan gejala penyakit apapun. Berlainan dengan anak anak kita yang  mati konyol kala menenggak oplosan demi menyematkan prestis meeka yang tak kunjung menggapainya.

Akankah lebih melegenda ke seluruh egara Negara sebrang, yang beristana di tengah lautan pasir, kutub utara dan selatan, ataukan puncak Mount Everest tentang Archipelago yang indah menawan yang berganti baju sematan Negara Nasi Aking, Negara TKW teraniaya, Negara Wedus Gembel atau bahkan Negara Oknum Petinggi Korup, denga menepiskan begitu saja sematan keagungan bangsa ketika Ramang dan Rudi Hartono atau juga Ir. Soekarno  dan lainnya yang menjadi buah bibir dunia.

Ilalang ilalang yang hidup di kampung berdinding korban jaman, kini hanya mendenguskan nafas panjang, bila mereka merasa telah hampa asa yang digenggam, lantaran separo nafas yang dititipkan pada istana loji penguasa,  akhirnya hanya terhempas oleh angin hedonisme mentalitas setan dan hantu berjubah hitam di Archipelago. Apalagi bagi ilalang  yang berbedak pupur debu Merapi hanya bersandar pada sorot mata yang kosong. Tembang si Piawai Lagu Sajak Ebiet G. Ade tentang Untuk Kita Renungkan, Perjalanan dan lain lain,  hanya untuk penghibur secangkir kopi manis di senja hari.  Bahkan mereka kini telah melebarkan jubah hitamnya guna menapatkan kursi kekuasaan yang lebih tinggi.

Ilalang yang bukan luusan kampus perlente saja telah tahu, bahwa kedamaian dan ketentraman negeri Archipelago hanya mampu diraih bila kita tidak saling mengukuhkan ego, tapi kita saling menjadi satu dalam cincin nasionalisme, apabila kita diusik oleh cincin api. Keterpurukan hanya mampu dientaskan bila antara daun ilalang saling bertaut antara satu dengan yang lain, bukan dengan jubah hitam sang hantu yang digunakan untuk menutupi aib nasionalisme, aib kemanusiaan dan aib moralitas lainnya. Hantu hantu enyahlah kau dari kereta reformasi


Rabu, 14 November 2012

Bulan di Sudut Senyumu

Sebaiknya bila engkau punguti catatan harian, yang terselip di sudut langit  biru. Tentunya akan kau temukan sesuatu yang di tengahnya aku gambari lukisan tentang keindahan.  Sebagai ungkapan tentang aku yang akan  merindumu.

Sudahkah jiwa ini yang telah engkau telanjangi dengan rayuan merdumu. Telah pula engkau buatkan penyejuk untuk melepas lelahku. Oh…alangkah jauh perjalanan ini. Sudahlah kembang kertas ini engkau  sulami dengan warna-warni hasrat. Maukah engkau tunjukan mana yang bisa engkau nyanyikan.

Malam aku tempuh dengan keluhan nafas yang berat, karena terpagut dengan langkah yang tertinggal. Bila engkau  mencoba, mungkin kau akan tergambar pada ufuk esok pagi. Oh. . . cakrawalamu . sudahkah  berhias sinar mentari pagi. Sudahlah  !, untuk sementara biar aku genggam haru birumu, menyertai perahu hasratku yang kandas di keangkuhanmu.

Kupadukan antara hasrat, kagum dan beribu asa. Menjadi secawan hiasan hidup yang dinamakan cinta. Kulukis di tiap dinding hatiku, yang belum pernah kau gantungkan denting kemesraan
Atau mungkin diriku yang belum mengerti yang mana tempatmu singgah, dimana engkau sembunyikan pesona hidup ini, atau mungkin  lebih jelas bila kusodorkan cinta. Agar hatimu mau meneguk kejernihan hatiku.

“Engkaulah bunga sejuta harapku, adakah sisa hatimu untuku ? “ demikian aku coba bertanya pada hati ini.                     
“Lantas dimana kau simpan hatimu, yang belum terisi sejuta keindahan “ jawab sebuah hati yang entah tersembunyi di mana.

“Bila engkau  mau merinduku, lalu akan kamu apakan jiwa yang menggelepar ini ?, sedangkan bayang wajahnya terus saja terbujur kaku di mimpiku” terus saja suara dinding hatiku  bergeliat.

“Mampukah engkau menyusun puisi hidup, tentang irama keindahan cinta. Jangan kamu kagumi wajahku, jangan kau kagumi dengan betis atau bibir merah delimamu. Kagumilah aku yang terus telanjang menantikan arti hidup ini “ jawab dinding waktu yang sekarang entah berdiri di mana.
Aku tersentak kaget dari tidurku. Terdapat selembar gambaran wajahmu yang tiba-tiba muncul, tanpa aku duga darimana arah kedatanganmu.  Lantas aku sertakan  engkau, untuk meniti perjalanan pagi. Kala itu beberapa saat yang silam akupun belum tahu, bahwa telah terselip dalam hatiku tentang keindahanmu. Belum ada di bagian manapun di hati ini,  yang ingin tahu lebih jauh tentang dirimu.
Namun berulang kali dentang jam dinding yang berjalan secepat kilat, menyambar keinginanku yang menggumpal dan terus menggumpal. Sehingga mendesak jantung hatiku dan menyesakan dada, mengapa belum ada perahu hasrat yang berlabuh di pantai hatimu

Tentunya bila aku sodorkan sebuah cinta untukmu, Engkaupun akan mengepakan sayapmu, menuju cakrawala, yang entah akan menggelantung di langit sebelah mana. Namun kembali lagi  jarum waktupun terus mengejarku, agar bulan dengan seribu panorama, yang terpancar dari senyumu, tiba-tiba saja tunduk dipangkuanku.

Bulan kini masih tersembunyi di balik awan, dan akupun telah berada tepat di depanmu. Entahlah aku sendiri telah menguatkan hati yang tadinya hanya mampu bernyanyi sepi. Namun kini hatipun telah aku siapkan, hingga mampu menjadi telaga tempat aku berpuas diri.
Kusapa dan engkaupun tetap menyisakan senyumu, laksana sebuah permintaan agar bulan setidaknya mau mengintip di langit malam. Untuk menyaksikan  aku yang hendak menuangkan hasrat kepada kekasih hati, yang kini berada di depanku.\

Kuberikan juga sepenggal asa agar kita berdua menghiasi biduk dengan ornament yang sederhana. Mengarungi lautan biru, dengan ombak yang akan menguatkan kedua sisi biduk kita. Tentunya pula akan kau gapai, bila memang harus kutemui bulan tepat di atas tempat kita mendirikan rumah mungil tapi bersih. Dan pada giliranya rona sinar bulan akan menjadi senyumu.
Hari demi hari, tentunya dandanan hidup akan lebih semarak. Bila engkau tiada pernah bosan untuk menyirami kembang – kembang taman yang ada di pekarangan rumah mungil kita.  Bila telah ada pula tautan hati diantara kita untuk sekedar merobahkan tubuh kita yang penat.
“Jangan kau biarkan halaman depan rumahmu dipenuhi debu sore hai, yang dibawaoleh angin kembara yang nakal hai. .  .kau wanita tambatan hati “  demikian ungkap kembang mawar di sudut halaman.
Sedangkan kembang melati juga tak kalah lantangnya untuk meneriaki wanita yang ada di dalam rumah mungil itu, “ Jangan kau pernah ragukan secawan cinta suci dari pria yang akan membawamu mengepakan sayapmu menuju biru langit.

Sekali-sekali kembang kenanga juga ingin nimbrung bareng dengan kebahagian kembang-kembang sore yang telah basah disiram air sejuk, yang dijinjing wanita yang berkulit kuning dan bersih, 
“ Jangan kau harap akan mampu menggenapi hidup ini, bila dalam hatimu masih ada sisa ketidak- tulusan. Mungkin pula engkau bisa menipu dirimu sendiri, namun sorot mata adalah sesuatu yang tidak bisa diajak berbohong. Maka benahi rumah mungilmu, agar sepanjang malam engkau mampu berdandan ayu “.
“Efinta !, inilah rumah mungilmu, apabila engkau selalu menatanya dengan optimis, maka tentunya dinding dan atapnya tidak akan runtuh walau digoyang gempa sekuat apapun “.
Demikian sempat aku bisikan pesanku dekat ketelinganya, saat bulan sudah mulai hadir di atap rumah kita,  agar cukup tangguh maghligai bahtera ini, menghadapi ketidak pastian dunia ini. Bukankah telah cukup banyak rumah mungil yang runtuh diterpa angin prahara keangkara-murkaan manusia yang tak tahu diri ini. Bukankah pula banyak rumah  mungil, yang justru diisi dengan ornamen durjana, dari manusia yang menajamkan nafsunya setajam pedang.
“Efinta bersihkanlah selalu kaca jendela rumah mungil kita, agar kita bisa memandangi dengan transparan, cakrawala di depan halaman. Sehingga kita tahu persis kemana langkah kaki akan kita ayunkan “. Bulanpun sudah mulai mendekat di raut wajahmu.
“Benarkah engkau pria yang selalu dekat denganku, benarkah itu  “ ?. Kala itu bulanpun mulai merajuk, untuk ditembangi dengan nyanyian bunga-bunga wangi. Untuk mengharumi ruang demi ruang di rumah mungil ini.
“Efinta,  aku hanya memiliki bagian hati, yang sebagian untuk dengus nafasmu, dan separonya lagi hanya untuk rembulan yang kini sudah menumpahkan keindahaan di kerling senyumu
”Lantas semua ornament rumahpun telah menjadi saksi bisu, ketika dua hati mengucapkan selamat malam pada rumah mungul ini, pada semua kembang pekarangan yang menata rapi. Dua hatipun bergelora di dalam rumah mungil ini, untuk menghabiskan malam panjang bersama rembulan, yang kini telah menjadi miliku,

Senin, 11 Juni 2012

semu


Figure dan prototype manusia terbuat dari lilin berbagai ukuran melambung eksotis bila dikemas dalam pakaian dan asesoris yang glamour dan warna warni yang serba kontras. Selalu saja mereka memenuhi etalase kaca bertepi ornament yang artistic, membuat beribu pasang mata terperangah kagum. Apalagi bila sang manusia lilin berphose Ratu Inggris Kate Midlleton, lengkap dengan sang pangeran disampignya, di atas kereta kerajaan yang ditarik 8 ekor kuda albino.

Seakan akan kereta kerajaan berjalan perlahan, senyum sang ratu tak pernah luruh sepanjang jalan, diseputari prajurit patang puluhan lengkap dengan seragam tentara kerajaan mirip dengan gambar yang terpampang di kaleng biscuit yang mahal. Meskipun hanya sebuah lilin, namun sifat fisik dan kimia lilin tersebut dengan gampang mampu mengelabui mata kita.Yang aneh meski kita tahu bahwa obyek benda tersebut hanya tipu daya saja, namun kita membiarkan diri kita terhipnotis  sihir sang lilin, yang begitu tajam menusuk retina mata kita.

Betapa tidak, kehalusan sifat lilin yang mampu  menukilkan kehalusan wajah dan anggota tubuh sang figure yang diimajinasikan dan ditambah superior sifat  ego manusia ketimbang makhluk lainnya di bumi ini, maka lengkaplah sudah pesona manusia lilin mampu menyeret manusia dalam imajinasinya untuk memerani persis apa yang tergambar dalam figure lilin itu. Sehingga bisa saja, seorang mausia yang berwajah jelek dengan kerut kulit wajanya yang menebar disana sini, dengan  gigi yang sudah mulai menghitam termakan usia, dia berimajinasi menjadi actor Tom Cruise dalam film “Top Gun” yang berkencan dengan instruktur wantanya, yang jatuh hati pada actor ganteng itu. Atau seorang remaja yang cacat sebelah kakinya, akan menyamakan dia dengan Gaston Castanyo penyerang Gresik United FC di kompetisi ISL.

Padahal lilin yang mampu mengeksotiskan figure manusia tersebut di atas , memiliki sifat fisik dan kimia yang ringkih. Lilin akan meleleh pada suhu di atas suhu kamar dan akan hancur berkeping bila mendapat tekanan dari benda lainnya yang lebih keras. Apabila lingkunga fisik memungkinkan lilin untuk berubah wujud fisik, lenyaplah sudah semua keindahan yang semula mampu menggoda hati kita. Perlukah wujud, nasib, atau setap yang kita dambakan di dunia ini kita ganti dengan wujud lilin. Meski kehidupan di dunia  yang kita milik, pada hakekatnya adalah fenomena seperti manusia lilin, namun kita adalah mausia lilin yang sadar  akan fenomena kodrati yang dianugerahkan kepada Tuhan yang Kuasa. Serta kita memiliki software yang tidak dimiliki manusia lilin di dalam etalase, yaitu sikap tawakal. Itulah peredaan kita dengan manusia lilin***