Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Agustus 2021

Beranda Hotel CASSABLANCA (Memperingati HUT RI ke 76)


Sejak  pemerintahan Belanda terusir dari Bumi Nusantara dan hengkang dengan wajah lesu, lantaran  kalah perang dengan Tentara Dai Nipon, Hotel Casablangka di pinggiran Kota Semarang sudah tidak lagi berdandan eksotis lagi, tapi lebih menyodorkan ornament-ornamen gaya Eropa yang ditelikung kepedihan. Gelas gelas piala Baverage Cock Tail Party kini merenungi nasibnya, terbengkelai di meja portir pub hotel itu berserakan bercampur debu.
Wanita wanita  “Inlander” penghibur para serdadu KNIL pun telah mengungsi entah kemana. Berandanyapun kini berdandan kekumuhan dan tiada lagi bersenyum ceria, berbeda dahulu  kala para perwira NICA dan KNIL mengumbar nafsu durjana dengan nafas berbau brandy, whisky ataupun vodka.
Angin gunung Ungaran kini menggantikan kecerian hotel itu dengan membawa kedinginan. Sementara itu suara burung kenari dan jalak kini menggantikan Gramaphone yang menyuguhkan  Mozart yang dahulu banyak digandrungi perwira NICA. Mereka dengan setianya masih menyanyikan lagu ceria tiap saat dibuai angin Gunung Ungaran
Hesti sang wanita penghibur dan primadona Hotel Casablangka kinipun merajuk hatinya sendiri untuk segera pulang ke desanya di kaki Gunung Merapi. Meninggalkan lembah hitam yang melilitinya, meski bedak dan gincu yang ia jadikan kawan setia guna menyodorkan cinta warna-warni, bak kembang kertas kepada anak buah Kapten Van Mook, bregundal NICA, yang saben hari menghujamkan nafsu gairah syetan kepada wanita Inlander tak berdaya. Hesti hanya bisa merenungi ketika gelas brendy sudah tiada lagi disisinya, ketika dia bermandikan Gulden hanya untuk sepenggal hidupnya,yang terkikis tajamnya badai kehidupan.
Namun Hesti masih menempatkan Kapten Burhanudin, pejuang TKR di sudut hatinya, yang kini entah terbawa angin revolusi, di belahan bumi mana atau hanya mengintip di balik awan hitam yang menaungi hidup Hesti. Tatap mata kapten pujaanya itu telah membawkanya sebuah cawan berisi aroma cinta dan berhasil meneduhkan hatinya. Kala hidupnya memang menjadi lekang dipusari ketidak adilan jaman. Apalah artinya lengan seorang wanita desa yang tiada berdaya melayani nafsu durjana anjing anjing itu, apalagi di bawah todongan revolver, ketika NICA menyerbu desanya. Dengan biadab pula mereka lantas menculikgadis-gadis desa dan mendekamnya di Hotel Casablangka.
Maka jeritan hati Hestipun tiada pernah padam lantaran  perahu cinta Hesti tiada pernah tertambatkan, meski Kapten Burhan pernah memberikan dia juga sekeranjang janji, untuk dibenahi bersama ketika malam penganten, entah kapan.

Roda jaman terus berputar, namun tetap saja tajam geriginya masih kokoh menguliti anak bangsa yang bergelora menghembuskan api revolusi. Nagasaki dan Hiroshima menjadi saksi korban ketajaman roda jaman, ketika semua daging telah terpisahkan dari ,kulitnya. Mulusnya kulit perawan perawan kedua kota itu, telah menghangus menjelma layaknya iblis yang menjerit menakutkan.Namun tiada yang menghiraukan, lantaran  pejaka pejaka Dai Nipon-pun ikut merasakan pedihnya seribu sembilu yang memenuhi tubuhnya. Angin kebiadaban dari sekutu benar benar kejam, tiada lagi punya hati untuk memeluk kasih berujud sayap malaikat penebar kasih sayang.
Desember 1945, menjadi bulan yang sangat mengiris hati Hesti. Karena pada bulan itu hari-hari kehidupannya di bawah Gunung Merapi, hanya berhias hujan dan angin dingin Gunung Merapi. Kini diapun hanya mampu merajut hari yang sepi dan meletihkan.  Namun dari mulut ke mulut Hesti mendengar kabar, bahwa Ambarawa telah meradang bara dan kepulan mesiu, tatkala tentara NICA di bawah pimpinan Brigadir Bethell meregang hidup dan mati berhadapan dengan TKR yang dipimpin langsung oleh Komandan Divisi V Banyumas, Kol. Soedirman, yang berintikan kekuatan Yon. Imam Adrongi, Yon. Soeharto dan Yon. Soegeng.  Palagan Ambarawa mampu mengokohkan  sebagai tempat untuk mencurahkan peluh dan tetesan darah dan kini kembali membisu setelah di pertengahan Desemnber 1945 Tikus Tikus NICA mampu kembali menghirup udara bebas  setelah hampir satu bulan terkepung “supit urangnya” Pak Dirman. Namun dasar tikus,  sematan “kalah perang “ belum juga menyurutkan hasrat mereka.
Hati Hesti kembali sejuk, sebuah harapan kini hadir di sudut hatinya lantaran dia tahu persis “kapten pujaan hatinya” pastilah ikut menyalakan bedilnya demi kehormatan dan jiwa besarnya. Lenganya yang kokh dan tegap pastilah mampu melentingkan mitralyuir, water canon 12, 7, granat atau bahkan tankpun mampu dia bungkam.
Oh..Casablangka kau pasti akan berdandan ceria dengan bulan purnama di  atapmu, bunga anyelir, dahlia serta mawar merah membara akan mewangi di berandamu. Tunggulah Casablangka, aku akan bermandikan cinta mutu manikam dengan kapten pujaanku di berandamu, aku akan membawanya berjalan ke setiap penjuru ruanganmu bersama dia”. Berkali kali Hesti menyekun hatinya, agar bilah cintanya yang mongering kini tumbuh bersemi lagi.
***
Deru Jeep Willys buatan Amerika kini lalu lalang di halaman Cassablangka, namun angin Gunung Ungaran masih saja terasa liar dan terus menyelinapkan kedinginan di setiap tulang laskar TKR  yang baru saja merayakan kemenangan. Mereka kini sementara bermarkas di Cassablangka karena tergiur dengan eksotisnya, bak gadis desa yang lagi mandi di sungai desa dengan gemercik air yang dingin.
Kapten Burhan yang tergabung dengan Batalyon Soeharto kini melemaskan semua badanya dan memilih bersandar pada kursi berkulit macan di ruang lobby Cassablangka, yang hanya menyisakan kebisuan. Warna dindingnya telah kusam dan berdebu, mirip dinding rumah “ Palace of Vampir Princess”, Namun Kapten Burhan tiada pernah menjerambabkan anganya pada kebisuan hotel tak berpenghuni itu.
“Kapten, seorang wanita mata-mata berhasil ditangkap anak-anak. Tapi dia mengenalmu”Laporan komandan jaga Sersan Hamid tiba tiba saja menggetarkan kebisuan ruang lobby hotel itu.
“Suruh dia menghadapku”
“Siap, Kapten !”. Kapten Burhan menjadi terpanggang hatinya, lantaran sebuah rasa penasaran menyeruak dalam hatinya.
Kini tiba tiba saja warna pelangi mengungkungi langit Hotel Casablangka, yang telah terbelah dan menaburkan kembang warna warni, untuk hiasan  sebuah hati yang sedang memaknai cinta. Kapten Burhan tiba tiba saja menjelma menjadi “malaikat dengan sejuta sayap”, untuk menerbangkan hatinya jauh dari muka bumi.Sebuah fatamorgana hati yang tiada bisa terbayangkan oleh “kapten pujaan” ini.

 “Hesti..!!!”
“Mas Burhan !!!”.
“Tapi,  apa benar engkau Hesti. Mengapa engkau ada di sini”
“Ceritanya panjang, Mas !”
“Tapi aku perlu jawaban darimu, mengapa kamu tahu aku ada di sini, agar mereka tidak menuduhmu mata-mata “
“Aku dengar dari beberapa anggota TKR Ambarawa, bahwa Batalyon Soeharto sementara bermarkas di hotel ini. Mereka juga menyebutmu turut dalam batalyon ini” Burhan kini tiada bedanya dengan  setiap ruangan Casablangka, yang memilih terpagut sepi. Burhan diam seribu bahasa, hanya pandangan mata liar beruntai “Tembang Asmaranda” menyelusuri setiap jengkal tubuh Hesti yang telah lima tahun berpisah.
Burhan mengajak Hesti untuk menebarkan sejuta rasa cinta di Beranda Hotel Casablangka yang berlatar belakang lukisan alam Gunung Ungaran. Namun demikian seberkas hasrat hati Hesti kini mulai tumbuh untuk menyodorkan kepada “kapten pujaannya” tentang dirinya selama menjadi wanita penghibur tentara NICA. Diapun kini membeberkan bait demi bait episode yang menggayuti kehidupan Hesti dengan rona warna yang hitam pekat.
Kapten Burhan menjadi pucat wajahnya, tiada pernah dia menemui sebuah keberanian sebesar ini untuk menerima Hesti kembali. Meski Thomson yang dipegang tangan kokohnya berhasil membabat habis semua NICA yang pernah menghadangnya. Namun hatinya kini, tiada selebar daun pohon durian yang tumbuh di depan beranda itu. Kepingan hatinya melebihi hancurnya tubuh Kolonel Van de Hudson yang tertimpa mitralyur TKR., Kebengisan apa lagi yang bakal aku hadapi di jaman yang tidak menentu ini. Bisik hatinya kini mendekam kuat di tengah hatinya.
“Itulah diriku,,Mas Burhan. Akupun tidak pernah akan memaksamu untuk menerimaku lagi. Biarlah aku pergi, apapun yang aku alami dahulu dan nantinya adalah memang harus aku hadapi. Bukankah kita hidup di jaman penjajahan, apapun bisa menimpa siapa saja”
“Akupun tahu Hes !, juga akupun tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang.Seorang pejuang apapun memilih mati ketimbang bekerjasama dengan anjing NICA. Maafkan aku Hes,aku sekarang tidak memiliki hati lagi untuk menghadapi ini semua”
“Ah jangan terlalu dipaksakan Mas, barangkali aku adalah wanita yang telah memiliki sebilah hati yang telah kokoh menerima penderitaan.Karena sejak kecil aku hidup dengan berbagai kesusahan”
“Hesti, aku tidak pernah menolakmu. Tapi maafkan aku, bila kali ini aku betul betul merasa berat untuk memberi jawaban. Berdoalah saja semoga kita bisa mengusir anjing NICA dan memerdekakan bangsa ini. Sementara pulanglah dulu kamu ke Selo, tunggulah aku pulang”
“Jadi itu keputusanmu,Mas Burhan ?.
Aku belum mampu memberimu jawaban, Hes. Aku minta waktu .Apalagi komadan brigif TKR menginstruksikan batalyon untuk kembali ke Solo, untuk menunggu tugas berikutnya. Toh kita alan berpisah lagi. Aku hanya mampu berjanji untuk menemui kamu setelah kembali bertugas”
Hestipun menghiasi wjahnya dengan senyuman tipisnya menambah kecantikan wajahnya. Burhan tidak munafik mengakui kecantikan Primadona Hotel Casablangka ini. Beranda hotel itupun menjadi saksi akan keteduhan hati Burhan kala berada di samping wanita tak berdaya ini.Ingin dia berlari sekuat tenaga dan membawanya mengarungi samudra guna menambatkan cintanya lebih erat lagi. Namun kembali hati itu menjadi tiada seberapa kokohnya menghadapi kenyataan di hadapannya. Waktulah yang akan memberinya sebuah kekuatan.
Kini perjuangan menggapai kemerdekaan telah membawa korban lagi, berujud ebuah perpisahan antara dua insan yang btermakan pusaran angin perjuangan kemerdekaan.

Rumah Berhalaman Taman Bunga




Tengah hari Kota Semarang dibanjiri semburat sinar mentari yang panas membakar. Debu debu berceria dan berkejaran di hempas roda roda kendaraan besar, layaknya monster yang haus akan mangsanya. Jalan jalan aspal berkilauan memantulkan sinar matahari yang tegak lurus menikamnya.  Peluh dan sorot mata berang memenuhi semua insan yang mengais selembar demi selembar harapan untuk melonggarkan nafas. Guna menggenggam hidup.

Pertengahan Bulan Oktober ini, alam lebih senang mengerlingkan matanya pada bumi dengan kerling mata yang kering tiada dibasahi hujan setetespun. Sementara bumi sudah mulai melekangkan tubuhnya, mengeliat dengan panas yang mengungkunginya. Meski baru dua minggu hujan besar telah menyelinap di wajahnya. Namun kini bumipun sudah mulai menunjukan kegerahanya.

Apalagi bagi  Herlambang yang tiada selembarpun kesejukan  bersemayam di hatinya. Di tengah deru dan debu hidupnya, wajah Raras yang kini merantau ke negeri jiran selalu berada di benaknya. Setelah kerja setengah hari pada hari sabtu siang, sambil menunggu kedatangan anak anaknya pulang sekolah, selembar lamunan terus memagut anganya. Mengapa dia membiarkan istrinya menjadi TKI di negeri sebrang, yang hanya meninggalkan kepedihan itu. Apalagi bila malam tiba, saat Ririn putri bungsunya, memeluk tubuhnya kencang-kencang, lantaran dia tidak mau  kehilangan lagi tempat berlindung. Setelah mamanya meninggalkan mereka demi selembar kehidupan .

Masih membekas dalam relung ingatanya, kala dia selalu menyodorkan egonya, menghempaskan harapan Raras untuk membina maghligai rumah tangganya dengan lengan lengan mereka yang tiada seberapa kokohnya. Kala dia pernah memberi janji manis pada gadis pedagang jamu gendong di Kota Semarang, untuk memberikan segala kehidupanya demi membangun gubug mungil berhalaman taman bunga, meski hanya kembang sepatu, bakung dan nusa indah. Betapa indahnya hidup yang berisi penuh dengan gambaran fantasi itu dan Ririnpun menjadi hanyut terkulai di pelukan Herlambang.

Maghligai penuh kasih mereka tambatkan dalam rumah mungil meski berdidnding bambu. Dalam gubug bambu itu, selalu terdengar canda anak anak mereka yang mungil, imut, cerdas dan manja. Tangis sang anak adalah ibarat penyejuk saat hati merasakan getirnya kehidupan. Itulah yang diberikan Herlambang kepada Raras, meski hanya sebuah janji.

Masih membekas pula kala dia hanya mampu menghabiskan gaji bulananya di meja judi berteman botol botol miras yang hanya dingin membujur, saat dia kalah dan kalah terus hingga mengikiskan akal sehatnya. Membenamkan seribu janji yang pernah dia sodorkan kepada Raras tentang hidup di tengah gubug bamboo namun berornamen kesahajaan dan kasih saying yang tulus.

“Bapak Ririn pulang “ sebuah suara lembut dan manja mengagetkan selembar lamunanya di siang hari. “Ririn sudah di kasih rapot  sama bu guru dan surat  untuk Bapak. Baca ya Pak. Dan Bapak di tunggu bu guru di sekolah ?’
“Ya Sayang, Bapak besok ke sekolah, mana rapotmu, sayang !. Biar Bapak lihat ?”
“Tapi Bapak masih marah ?”
“Oh Ririn sayangku, Bapak sudah nggak marah lagi, ya sayang !. Bapak tadi malam marah sama kakak kakakmu yang bandel”
“Baguskan rapotnya Ririn, Pak ?”
“Iya dong, anak siapa dulu “
“Nanti rapotnya di kirim ke mama ya Pak. Biar mama tahu rapot Ririn. Kapan mama pulang, Pak , Ririn kangen sama mama ?”. Air mata bening kini berada di kedua mata bocah yang hanya mengerti ketulusan hati. Air mata yang hanya datang dari hati yang paling dalam.

Herlambang kinipun tersudut di ketidaktahuan. Bagaikan bocah kecil yang tersesat di padang luas tak tahu arah. Kala menerima permintaan dari Ririn samudra hidupnya.
“Pak, janji sama Ririn ya, cepat cepat menyusul mama “ Suatu pertanyaan yang paling mengiris hatinya kini datang lagi,dari bocah yang lugu dan tidak sepantasnya jauh dari sisi mamanya.

“Iya sayang, besok Bapak ke sekolah kamu dan habis itu Bapak menyususl mama. Nanti Bapak belikan baju baru, ya ?”
“Nggak mau, Pak. Ririn hanya mau mama pulang !”.

Anak kesayanganya itu masih dalam gendonganya, namun hatinya kini memenuhi isi langit, mengembara jauh tiada tepi untuk menemukan seribu cara meminta kepulangan Raras yang entah di mana. Tiada selembar suratpun dia terima setelah perpisahan mereka.Ririnpun terkulai tidur di bahunya yang legam da kokoh. Sementara itu Iwan putra ke duanya dengan langkah terburu menghampirinya, sambil terengah berusaha mengatur nafas.

“Ada apa, Wan ?”
“Pak, aku tadi di sekolah dikasih uang ?”
“Siapa yang ngasih uang kamu ?”
“Nggak tahu, Pak. Dia mengaku teman mama di Malaysia. Dan kini dia pulang ke Indonesia dan nggak tahu dia ngasih aku uang untuk Ririn, aku dan Mbak Winda ?”
“Namanya siapa ?”
“Namanya Tante Lilis dan dia memberi alamat aku, katanya rumahnya di Kalisari, ini pak alamatnya. Untung Iwan tulis di buku alamatnya Tante Lilis. Janji ya Pak !, nanti jemput mama ?”
“Bapak nanti akan jemput mama, tapi Bapak nyari alamat Tante Lilis dulu. Eh..jangan ngomong sama Ririn dulu, ya..janji !”
“Iwan janji, Pak asal Bapak mau jemput mama secepatnya”
“Jangan kuatir, anaku !, demi kalian bertiga Bapak akan jemput mamamu”

******

Semula Lilis ragu dalam hatinya setelah bertemu dengan Herlambang, di rumahnya. Apakah pria yang ada didepanya kini adalah suami teman akrabnya di Malaysia. Namun perasaan ragu kini telah hilang setelah mereka berdua larut dengan perbincangan mengenai Raras.

“Dia memang kecewa dengan dirimu,Mas “
“Akupun mengerti perasaan Raras, namun demi anak anak aku harap dia mau kembali ke Indonesia. Dan akupun sudah tidak seperti dulu lagi, aku adalah manusia yang punya hati. Sepeninggal Raras,  kesedihan dan rasa rindu mereka bertiga sungguh mengiris hati ini. Maka aku akan kirim surat padanya agar mau berkumpul dengan mereka yang masih kecil”
“Bukan hanya anakmu saja yang menangis. Sering pula aku menjumpai Raras menangis, merindukan mereka bertiga”
“Tetapi mengapa dia tidak segera kembali “
“Raras segera mengurungkan niat kembali ke Indonesia bila ingat perlakuanmu padanya, Mas !”.
“Apakah tidak ada kesempatan bagi saya untuk membuktikan janji aku sama Raras?. Maka tolong Jeng Lilis, beri aku alamat Raras. Walau bagaimana dia adalah istriku “
“Tapi, Raras melarangku untuk memberimu alamat “
“Kalau memang tidak ada kesempatan untuku, suruhlah dia kembali, Jeng demi anak anak. Terutama untuk Ririn”

Saat Herlambang menyebut nama Ririn,  seketika itu pula terlibat butiran air mata Lilis memenui seluruh rongga matanya. Lilis mampu membayangkan betapa tersiksanya Raras di hampir setiap malam tiba,  kala teman karibnya menahan rindu yang mendalam.

“Bila Jeng Lilis tidak mau memberiku alamat, tolonglah kirimi dia surat, sampaikan padanya bahwa betapa menderitanya Ririn kehilangan dia. Bila dia tidak mau bertemu aku lagi. Bawalah Ririn dan kakak-kakaknya sesuka dia, meski hatiku berat ”. Herlambang adalah pria yang kokoh hatinya, namun menghadapi kenyataan ini semua Herlambang tak lebih seperti  bocah cilik yang kehilangan mainan.

“Baiklah Mas, aku beri nomor Hpnya, pakailah hpku saja supaya dia mau membuka,  biar Mas bisa menyampaikan sendiri ?”

Dengan tangan gemetar Herlambang memegang Hp Lilis, kini hatinya merasa tak percaya ketika sebuah suara yang paling dia kenal memenuhi semua pendengaranya.

“Ras, tolong jangan di tutup Hp ini. Aku Herlambang, tolong Ras aku ditunggu anak anak untuk mendapat jawaban darimu. Terutama Ririn yang tiap malam mencarimu”
“Untuk apa lagi, Mas.  Bukankah Mas dulu mengusirku pergi, Bukankah keberangkatanku telah minta ijin Mas, lagi pula Mas dengan dingin memintaku pergi sejauh yang aku suka”
“Raras, itu dulu. Aku tidak akan seperti itu lagi”
“Aku sudah tidak percaya kamu lagi, Mas !. Sejak kapan manusia sepertimu bisa memegang janji. Aku rela berpisah dengan anak anak karena janji yang kau lupakan. Bahkan dirimu memperlakukan aku…….”

“Ras, aku menyesali itu semua, setelah tiap malam Ririn dalam pelukanku dan selalu menyebut namamu di tengah tidurnya. Kau kan istriku, kaulah yang paling berhak memeluk Ririn kala malam tiba “

“Setelah aku kembali dan Ririn bersamaku lagi, kau bebas memperlakukanku lagi ?”
“Aku harus berkata apa lagi, bila kau terus seperti itu, Oh ya tadi Ririn menyuruhku mengirim rapotnya, dia naik kelas dua. Ririn tadi mengambil  rapot bersama dengan kakeknya. Dan besok aku harus ke sekolah memenuhi panggilan gurunya”

“Ririn naik kelas, Mas. Lantas mengapa gurunya memanggilmu ?”
“Dia bisa naik kelas dengan catatan harus banyak mendapatkan perhatian khusus dari ortunya. Aku laki laki Ras, tidak mampu memberi perhatian selembut dirimu. Maka kembalilah demi Ririn “

“Jangan kau harap aku akan kembali. Tapi tolong, Mas kirimkan copi rapotnya Ririn”
“Mengapa sama sekali kamu tidak mau kembali di tengah anak anak. Aku yang salah bukan mereka Ras. Demi kebagiaan kamu dan mereka,meski berat hati aku rela mereka semua kau ajak pergi. Ini memang sudah sepantasnya buat aku, Ras !”

“Tapi aku sudah tidak bisa menerimamu lagi, Mas !”
“Itu hakmu!, yang penting anak anak bisa berkumpul denganmu lagi. Aku rela kehilangan semuanya”

Herlambang tidak berani meneruskan lisanya lagi, kala sebuah isak tangis membahana di Hp Lilis. Herlambang menjadi tak mengrti mengapa hari ini kehidupanya penuh diwarnai isak tangis. Sebuah renungan mendalam menghiasi kalbunya, hingga menghasilkan niatan yang kuat untuk membenahi kehidupanya, bersama istri dan anak anaknya. Sebuah niatan untuk memyodorkan sebuah realita tentang rumah mungil berhalaman taman bunga, seperti yang dulu pernah dia janjikan.

“Ras, beri aku janji kapan kau akan kembali. Sebelum aku ke rumah Jeng Lilis, aku telah berjanji kepada anak anak tentang kedatanganmu”

“Mas, kamu pulang dulu. Catatlah nomor Hpku biar aku di rumah bicara sama anak anak”
“Ya, itu lebih baik, Ras. Aku sudahi saja, Selamat berbahagia dan jumpa lagi”

***

“Bapak, kapan mama pulang ?’ pekik Ririn dengan lucunya dan langsung menubruk tubuh Bapaknya yang tinggi besar.
“Duduk dulu di kursi ya. Nanti dengarkan sendiri janji mama”
Sebuah dering panjang dari Hp Herlambang memenuhi tiap sudut ruang tamunya dan kini Hp itu sudah berada di telinga Ririn. Ketiga anaknya kini bisa sepuas hati melepas kerinduan mereka terhadap mamanya. Mereka menjadi puas hatinya kala mendengar janji mamanya aka kembali ke tengah mereka minggu depan.

Waktu merambat bagai anak panah melesat dari busurnya, dengan penantian yang dirasa panjang ketiga anak Herlambang kini merasakan kehadiran mama mereka, terutama Ririn yang tidak mau lepas bergayut di lengan wanita setengah baya yang cantik itu.

“Mas aku akan bawa mereka ke Malaysia, karena disanalah kehidupanku”. Suatu senja di beranda rumah. Raras mengajukan sebuah permintaan

“Meski dengan berat hati, silakan Ras, demi kebahagiaan mereka. Mereka sudah cukup menderita, sekarang giliran mereka untuk menggapai bahagia bersamamu”
“Apa kamu tidak kehilangan, Mas ?”
“Siapa orang tua yang mau kehilangan anak , Ras !. Tapi andaikan kau melihat betapa menderitanya mereka selama kau tinggalkan.Kamupun akan rela berkorban apa saja demi kebahagiaan mereka. Apalagi semua ini karena salahku”.
“Apa karena kau sudah jera direpoti mereka ?”
“Sesaat kamu pergi, memang aku merasa mereka merepotkanku. Tapi itulah duniaku, itulah masa depanku, kalau toh aku inginkan semua kembali bersatu. Sudah tidak ada gunanya lagi, karena kamu sudah tidak percaya aku lagi”

Raras diam seribu bahasa, kentara dia masih menyimpan ganjalan di hati yang sangat berat untuk disampaikan kepada Herlambang. Herlambangpun mengerti perasaan istrinya itu, yang melebih es dinginya selama mereka berjumpa lagi.

“Aku tahu semuanya, Ras.Tidak usah kamu tutupi perasaanmu. Tidak usah kamu takut, Herlambang dahulu dengan sekarang berbeda. Meski Jeng Lilis tidak crita tentang ini, tapi aku bisa membaca isi hatimu. Tapi perlu kamu ketahui,merekapun tidak mau lagi menerima arti sebuah kehilangan, apalagi selama ini akulah yang paling dekat dengan mereka. Aku berkata seperti ini bukan untuk mengemis kehadiranmu, tapi demi anak-anak.Karena mereka semua, adalah masa depan kita”

“Tapi kehidupanku disana akan lebih menjanjikan, Mas !. Mereka tentunya akan bahagia bersama kehidupan mereka yang baru”
“Sebaiknya kamu jangan terburu buru menyimpulkan. Pintalah pada mereka satu per satu. Kalau memang mereka mau,apa salahnya ? ”
“Betul, Mas ?. Kamu tidak akan merasa kehilangan ?”
“Arti sebuah kehilangan telah akrab dengan diriku sejak kecil, Ras. Sejak ditinggalkan ortuku,kehilangan jati diriku dan kehilangan kamu “
“Kamu telah berubah sekali,Mas “

“Ya, karena berada di tengah mereka selama dua tahun. Penderitaan mereka telah menyadarkanku dan mendewasanku. Justru perasaan itulah yang membuat aku siap segalanya menerima semua kehilangan seperti yang kau pinta”.

“Tapi aku sudah terlanjur melangkah, Mas ?”
“Itu,masalahmu, Ras, yang penting kamu bahagia. Tinggal kini anak anak bisa menerima tidak. Terutama Ririn, dia sekarang sedang mengalami penyembuhan psychology. Sebaiknya kamu jangan melangkah terburu-buru”
“Ah…aku tidak tahu, Mas !. Aku harus berbuat apa ? ”
“Bahagiankan dahulu hati kamu di tengah mereka. Niatan menggapai hidup di Malaysia kamu tunda dahulu. Meski sekarang kamu sudah di tengah mereka. Anak anak masih tidak percaya realita ini. Ririnpun masih menyimpan rasa takut kehilangan dirimu lagi “
“Akupun kini mulai ingat akan janji-janjimu dulu Mas. Tentang rumah kecil namun bahagia di tengah tawa canda mereka. Seperti yang pernah kamu janjikan “
“Kamu tidak sadar, Ras !. Bahwa janji janji itu mulai aku tepati. Setidak tidaknya kita sering berkumpul bersama dengan mereka, tanpa ada yang merasa kehilangan.Hanya kamu saja yang masih berniat menggapai kehidupan di Malaysia. Namun aku tak berani menghalangimu, karena itu hakmu. Yang penting mereka bertiga berbahagia”.
“Akupun tau, Mas. Namun kadang kadang aku masih tidak percaya ?”
“Maka waktulah yang akan memberimu kepercayaan kembali”

Malampun mulai menyisihkan senja, rumah mungil itu kini tidak perduli lagi terhadap datangnya malam. Karena kehangatan kini mereka dapatkan kembali, setelah beberapa lama tercabik oleg derunya nafsu manusia. Rumah mungil itu kini kembali diwarnai dengan halaman tempat taman bunga bersemi.



Selasa, 20 November 2012

Shodanco Sudjiwo




September hari ke 18 tahun 1948, sebuah pengumuman dari Gubernur Militer Republik Sovyet Madiun tentang pembentukan Front Nasioanal Daerah menyelinap ke angkasa Kota Surabaya yang terpagut sepi, lantaran disekap hujan semalam.

Namun pengumuman Gubernur Militer Republik Sovyet Madiun tersebut, seketika menghangatkan udara kota Surabaya. Embun yang turun di pagi hari sontak menepi, ditepis gelora juang hati para pemuda, termasuk Letnan Sudjiwo, anggota TKR Batalyon Mayangkara 503, di Perning Sidoarjo tepi batas kota. Surabaya yang merah membara akibat ulah anjing NICA pada November 1945, kini kembali bangkit lagi untuk menghempaskan “merah darah” yang hendak merenggut Bumi Madiun menjadi negara Beruang Merah.
Demikian juga Lt. Sudjiwo, hati letnan lajang itu meradang merah membara mendengar “kaum merah” yang menggagahi Madiun dengan sekehendak hati. Ibu pertiwi yang lagi bersolek penuh gairah bersyahwat dengan nasionalis setiap anak bangsa, guna mempertahankan sang kekasih dari sergapan dan tikaman bregundal dari daratan Eropa, yang telah berabad lamanya memasung hasrat Ibu Pertiwi “pemilik archipelago yang berpantai nyiur hijau”, telah terluka hatinya. Luka hatinyapun   tersayat bertambah dalam, lantaran bercampur dengan sebuah kerinduan semua anak bangsa akan makna sebuah kebebasan, yang telah menjadi fitroh , harkat dan martabat setiap nafas, yang telah banyak ditebus dengan apa saja yang mereka mampu kerjakan dan akan terus menjadi “penyulut” pergulatan panjang di pentas prosa sebuah bangsa.
Sang letnanpun telah tahu persis tabiat “kaum merah” yang liar tanpa nyanyian jiwa, maka Rakyat Madiunpun bakal menjadi  korban radikalisme tanpa mengenal “kehalusan akal perasaan” demi sebuah revolusi setan. Maka Perningpun menjadi saksi bisu akan semangat anak bangsa “asuhan negeri ratna mutumanikam Nusantara” untuk menerjang setiap hasrat yang menodai revolusi kemerdekaan ini. Mereka telah berkumpul di markas batalion itu untuk menunggu perintah Panglima Divisi I Jawa Timur Kolonel Sungkono.
Belum jelas betul jalan-jalan di Kota Surabaya akibat embun pagi yang menghalangi sang mentari. Sepanjang perjalanan hanya terlihat rumah rumah penduduk yang masih terbujur kaku dengan pintu yang masih tertutup rapat. Mereka betul-betul melupakan “ucapan selamat pagi” pada wajah pagi. Namun letnan lajang itu telah melaju dengan sepeda Bathavus menuju Ngagel guna menautkan hati dengan gadis yang selalu hadir di hatinya.
Irma gadis Ngagel yang dirindunya kini menghias bibirnya dengan senyum ceria, bak bunga mawar merah bermandikan embun pagi. Irma tiada mengira “Shodancho Sudjiwo”, yang dia kenal betul sejak jaman PETA, kini berada tepat di depannya meski hari masih tertutup embun.
“Ada perlu penting apa Mas !, pagi pagi sudah ke Surabaya. Ada sesuatu yang gawat rupanya ?”
“Betul, Ir !. Madiun diterjang orang merah. Musso dn pengikutnya bikin ulah. Nasibku tinggal menunggu telegram dari Pak Dirman. Untuk maju menyabung nyawa, sesuatu yang sangat aku benci dalam hidupku”
“Kenapa baru sekarang, Mas bicara masalah menyabung nyawa, Mas kan bukan anak kecil lagi. Sudah kenyang dengan pertempuran meregang nyawa sejak jaman Heiho,
PETA dan pembentukan Djawa Hookoo Kai. Semua anggota laskarpun menyabung nyawa dengan gagah berani“
 “Aku sendiri heran,  Irma .!, Mengapa begitu panjangnya tugas-tugas negara yang selalu saja menelibatkan aku. Padahal aku berharap semua akan berakhir . Sehingga aku bisa meniti kehidupan bersama kamu dalam satu rumah mungil.Tapi ya suadahlah…Ir, aku hanya akan pamit saja sama kamu, untuk menerjang Musso di Madiun”.
Irma hanya tersenyum manis mendengar keletihan jiwa pada letnan muda itu. Namun diapun memaklumi. Lantaran dia dan jutaan Rakyat Indonesia sudah letih pula dalam menggapai kehidupan adil makmur sentosa di masa mendatang. Keduanya kini hanya saling pandang, ketia roda-roda sepeda Bathavus sudah berada di depan rumah Irma Susanti, pejuang wanita yang dijumpai pertama kali oleh letnan lajang itu pada sebuah dapur umum.
Kolonel Sungkono tahu persis bahwa tidak setiap Rakyat Madiun adalah pengikut Musso, maka kekuatan pengikut Musso dan tentaranya tentunya hanya terkonsentris hanya di daerah tertentu saja.  Sejak Kolonel Sungkono diangkat menjadi Gubernur Militer Jawa Timur, 19 September 1948, dia tidak menyisakan waktu barang satu menitpun bagi pasukannya untuk membiarkan pengikut Musso melarikan diri. Tangan tangan mereka yang berlumuran darah harus berhadapan dengan Divisi I TKR, yang terus menerjang maju dari arah timur Kota Madiun. Sementara dari atah barat mereka harus berhadapan dengan TKR Divisi II pimpinan Kolonel Gatot Soebroto. Mereka tak kenal lelah maju melumat beruang merah yang kini tinggal terkonsentris di kota Madiun.
Bau mesiu dan asap meriam membahana di semua tempat di Kota Madiun yang meradang pilu. Setiap langkah maju dari pasukan TKR selalu dihadang dengan pekikan semangat menggelora dari pengikut Musso yang tiada kenal takut, mereka bagaikan mayat yang memanggul senjata. Namun bagi anggota TKR, sikap berani mati mereka tidak sempat menggoyahkan anggota TKR, barang sehelai ambutpun yang terus merangsek maju, menerjang peghalang apapun. Sehingga pertempuran frontal terakhir di tengah Kota Madiun tak terhindarkan.
Hari hari terakhir pertempuran hebat dirasakan oleh Letnan Sudjiwo sebagai hari yang panjang. Lantaran sudah 2 minggu dia bersama anggota TKR lainya menyabung nyawa melawn pengikuit Musso yang sudah tercuci otaknya. Mereka bertempur bagaikan melawan barisan “benteng ketaton”. Namun satu demi satu banteng-banteng merah tersebut berhasil digulung. Hingga hari ini, Hari yang ke – 30 Bulan September mereka telah berada di depan Hotel Merdeka tepat di tengah kota Madiun tempat markas para petinggi pemberontak , meski berjarak beberapa ratus meter.
“Letnan…Letnan Sujiwo”
“Ada apa kopral”
“Aku kurir dan diperintah Kapten menghadapmu”
“Jelaskan apa perintah Kapten Djarot”
“Peleton anda ditugasi membungkam beberapa water canon yang ada di mulut gerbang Hotel Merdeka”
“Tapi itu tak mungkin ?”
“Saya hanya menyampaikan pesan, Letnan !”         
“Baik akan aku jalankan, sampaikan pada Kapten aku akan bertempur semampuku “
Letnan Sujiwo mantan Sodancho gemblengan serdadu Dai Nippon tidak merasakan gentar barang sedikitpun menghadapi water cannon PKI yang terus menyalak. Rasa marah membara kini menghinggapi bilik jantungnya, ketika melihat beberapa anak buahnya lunglai ditebas peluru senapan mesin tersebut.
 “Sersan Santo!,  kumpulkan granat yang masih kita miliki ?”
“Siap letnan. Tapi untuk apa ?”
“Aku akan bungkam meriam itu sendirian”
“Lebih baik anak-anak saja, Letnan !”                                     
“Tentu saja mereka aku libatkan, tapi mereka harus dibelangku, akan aku hujani dengan granat. Setelah aku beri aba-aba majulah serentak semua anggota peleton “
“Baik, Let, laksanakan !”
Sudjiwo kini merangkak harimau di atas padang alang-alang menuju water canon di depan gerbang hotel itu. Kini resiko apapun tidak berhasil mengusik hatinya untuk melangkah surut. Hanya Irma saja yang sempat melintas di atinya, maka diapun
mengacungkan tanganya untuk meminta Sersan Susanto maju mengambil posisi di sampingnya.
“Sersan, maukah kamu menolongku !”
“Tentu saja, Letnan !”
“Kamu kenal Irma kan ?”
Sersan Susanto hanya diam seribu bahasa setelah mendengar pertanyaan aneh dari komandan peletonnya itu.
“He.. Sersan, kamu kenal Irma kan ?. Gadis Ngagel ?”
“Kan aku pernah diajak letnan ke rumahnya. Ada apa dengan Irma, letnan ?”
Di tengah desingan peluru berbagai ukuran Letnan Sudjiwo menarik nafas panjang, tak lama kemudian dia mengeluarkan kalung emas dengan bandul berlian yang disodorkan pada sersan di sampingnya.
“Berikan ini pada Irma, tolong Sersan”
“Sebentar lagi kita pulang ke Surabaya, kan letnan bisa berikan sendiri pada Irma”
            ‘Kali ini aku benar-benar minta tolong, kembalilah ke posisi semula.Bersiaplah menunggu aba-abaku. Aku yakin kita akan menang, selamat bertugas Sersan.Merdeka !”
            “Merdeka, jaga dirimu baik baik Letnan, aku harap kita akan bertemu lagi di kesatuan”
Letnan Sudjiwo hanya tersenyum tipis, kemudian mempercepat gerakmerayapnya hingga semakin dekat jarak dia dengan water cannon. Setelah  tinggal beberapa puluh  meter jarak dia dengan water cannon, dia lantas melengking memberi aba-aba gerakan maju sambil melempar beberapa granat aktif di tangan kanan dan kirinya. Berkali kali
terdengar ledakan dasyat di sekitar senapan mesin itu. Sehingga hacur kini senapan mesin itu bersama dengan penembaknya.
Tubuh letnan itu kini terpelanting membasahi bumi dengan darah pahlawannya,lantaran beberapa peluru 12, 7 telah menyobek dadanya. Seluruh anggota peletonya kini merangsek maju merebut gerbang itu, sementara anggota lainnya berhasil maju hingga ruang lobi. Tak beberapa lama Hotel Merdeka berada sepenuhnya dikuasai Batalyon Mayangkara 503. Kini tubuh Shodancho Sudjiwo yang terbujur kaku berada di pelukan peleton C bersama linangan air mata anak buahnya. Irmapun melepas kepergian letnan pujaanya itu  dengan hati tabah, pada upacara pemakaman pahlawan kusuma bangsa. ***
(Cerita pendek ini  hanya fiktif belaka)-



Minggu, 18 November 2012

Di Sepertiga Malam




Aku tertegun sendirian di serambi yang mulia menuju pintu kesabaran ini. Aku jinjing semua kisah hidup yang lama aku pendam. Satu demi satu aku ungkapkan kepada Engkau di balik mega sana. Saat itu malampun telah larut. Meski suara alam telah mulai bergemerincing untuk membangunkan semua yang lusuh,  berbaju dengan hiasan benang kumal, yang mampu menerbangkan debu – debu kesombongan.

Taktala telah aku benahi hidup ini pada garis bulan  selembar hidup ini. Semoga bisa merapat menjadi satu ampunan dosa, mengikis laknat dariMU atau berganti dengan samudra RahmatMU. Aku tertunduk lesu, meski kadang ego dan sekeranjang nafsu ingin membelaku dan segera menjauh dari kemuliaanMU.

Di balik pengap dan sesaknya tragedi hidup manusia, kadang ada secuil rasa ingin menghampiriMU dan sekedar mengguyur air dingin hati yang merona panas ini. Hidup yang menurut syair keindahan adalah semata  hanya numpang minum saja. Namun ada kalanya manusia mengartikan sebagai  kuda pacuan di lintasan yang tak berujung dan dipenuhi penonton yang mengharu-birukan arti dunia.

Apabila telah sampai masanya, akupun ingin betelanjang hingga kelihatan semua kotoran yang menempel pada kulit tubuhku. Mungkin di kulit lenganku, ada sekumpulan rasa iri, tamak dan rakus, yang menurut nasehat orang tuaku adalah mata air keruh yang mampu memancari air dosa yang keruh.


Mungkin pula di kulit dahiku ada selembar riya, sombong dan takabur yang terus menempel pada jejalanan lurus panjang menuju Engkau. Sehingga kotoran ini bisa terus mengaburkan batas pandangku untuk meniti tentang Engkau. Dinding putih kemudian menghampiriku pada jarak yang tak kumengerti, seraya berkata

      “Isilah keranjang yang ada di depanmu itu dengan segala keindahan hidup, yang bisa berupa tingkah lakumu, lisanmu, tanganmu dan budi baikmu pada sesama “.
Akupun menjadi surut kebelakang seraya kujawab ;

    “Namun apakah keranjang itu bisa memuat niatku, dari hati yang kotor ini. Sedang pakaian yang kukenakan saja telah lupa aku cuci saat berjalan di padang gersang yang berlautan debu.

      “Sudahlah mumpung hari masih pagi, masih bisa engkau bernafas memunguti butir hidup yang engkau sukai , sebab ada suatu masa nantinya dimana nafas ini akan hilang terbawa angin kembara terselip di awan hitam “

    “Oh. . . alangkah ragunya aku, ataukah mungkin pada setiap denyut nadiku ini ada seribu iblis yang menggodaku ?”. Akupun tidak tahu jawaban ini,  yang jelas  suara ini lepas begitu saja dari jantung kiriku.

       “Bila tidak segera engkau lenyapkan maka akan tersumbat seluruh nadimu sehingga engkau akan terkapar penuh ketidak- tahuan “ sahut dinding putih yang merengkuhku.
Tertawalah berderai sayap-sayap hitam yang memenuhi malam ini, Nyaring suaranya hingga membuat dada ini sesak. Namun kembali aku berusaha untuk tegap dan bangun dari seribu sayap yang menelikung tubuhku, yang mengangkat kerah bajuku hingga menggantung seluruh tubuhku yang gontai berjalan.

Akulah yang ingin pulang kepada dimana mulai aku hadir ini, dimana ada celoteh kasih sayang,  pelukan kasih dari Yang Maha Kuasa,   yang telah membungkusku dalam sekotak   kisah cerita tentang perjalanan ini.

Tak akan kuliwati dan akan kubiarkan saja bila sayap – sayap putih Malaikat Penerang Malam memenuhi setiap penjuru bumi. Biar aku jadikan titian untuk menujuMU, yang mulai menghilangkan temaram malam yang tak berujung pagi.

Sayap yang tumbuh di dahi para Malaikat itu adalah titianku untuk menuju apa makna dari seriap catatan yang kubuat sendiri. Sedangkan sayap inipun mampu untuk melibas semua sayap hitam yang akan membimbuingku ke arah mimpi yang tak tentu arah.

Sedangkan sayap yang ada di dada malaikat itu,  biarlah akan aku  gunakan untuk menjaga gumpalan daging Iman di hatiku. Biar mampu bersemayam dengan damai hingga berakhirnya jarum waktu.
   “Oh alangkah ringannya tubuhku melayang melewati bintang-demi bintang. Oh alangkah tertinggalnya bulan di sudut ruang kalbuku. Janganlah pernah kau tionggalkan aku oh bintang yang berbinar  terang  
   “Aku berikan seberkas sinar ini saja, wahai engkau manusia yang ingin berbuat kebajikan “ seru bintang tatkala aku berhasil mendekatinya.
   “Peluklah daku oh seberkas sinar, bila engkau berhasil menggoreskan di sisa hidupku ini,  mungkin akan aku jadikan bekal  di perjalanan menuju yang menerangimu oh. . Bintang “
   “Apakah engkau sudah jemu dengan permainan deru dan debu  yang kau buat sendiri.  Hai manusia durjana, yang mengibaskan dosa di setiap dentang  waktu “
   “Akupun tak tahu, hanya saja sudah ada kepengapan dalam tembang dolanan yang biasanya kunyanyikan. Jangankan yang menerangimu, alampun saat ini sedang beramai-ramai menguliti setiap kedurjanaan ini”
    “Kedurjanaan  yang dilakukan siapa. Hai. . . manusia  ? “  tanya Sang Bintang
    “Entahlah, kedurjanaan ini adalah yang seringkali diciptakan manusia “
    “Apakah sering kau curi kekufuranmu sendiri dari catatan yang ada di langit “. Sang Bintang bertanya hingga suaranya mampu merobohkan semua gunung di bumi. Akibat dari lukisan jiwa manusia yang mengotori kanvas RachmatNYA yang terhampar luas di bumi.
   Kekufuran yang mampu membangkitkan ombak tsunami, kekufuran yang mampu menerjangkan badai dan topan, kekufuran ini pula yang memuntahan isi perut bumi. Dan terkadang pula menggetarkan permukaan bumi.  Sementara  itu manusia hanya mampu berteriak panik.
   “Lantas apakah mampu manusia membendung ini semua, Wahai bintang yang setia menemani malamku “
   “Engkau hanya sebutir pasir di padang pasir, engkau hanya sebuah daun kering yang kapanpun bisa gugur memenuhi permukaan bumi. . . maka hendaklah basahi lidahmu  yang kelu itu dengan wewangian yang mampu menembus ujung langit. . .hadapkanlah wajahmu yang penuh dengan tengadah sombong untuk kau tundukan dan hadapkanlah ke arah Dzat Yang Kekal dan Abadi.   Isilah malam – malam yang senyap dengan goresan warna yang bening, yang tiada lagi goresan hitam”
  “Apakah duduk simpuhku ini sudah mampu membawaku ke Yang Kekal dan Abadi  itu ?, Jawablah wahai Sang Bintang, mumpung belum terdengar denting fajar menjemputku”
   “Janganlah pernah kau tanya lagi,  telingaku sudah  lelah mendengar hangar – bingar manusia yang  berburu nafsu ingin mendapatkan  segenggam pujian. Janganlah kau ungkapkan lagi tabir yang tak akan pernah kau tahu. Kecuali bila engkau telah mendapatkan denting waktu yang menjadi milikmu “
   “Lantas aku harus bagaimana ? “. Tanyaku  yang terhenyak kaget dengan  jawaban Sang Bintang.
   “Yang Telah Menciptaku tiada pernah merasa bosan dengan apa yang dimunajatkan  manusia. Meski manusia itu sendiri telah  lelah melewati bingkai demi bingkai niatnya. Teruskanlah apa saja yang dapat kau maui “.
   Oh. . .terlalu jauh perjalanan sepertiga malam ini,  namun tak kuhiraukan  penatnya  otot tubuhku. Asalkan aku dapat meringankan tubuh ini untuk terbang bersama semua alam yang bersimpuh menyembah Yang Maha Kekal dan Abadi. Agar aku bisa merasakan wanginya bunga-bunga yang mekar diiringi suara cicit burung menyambut esok hari.
Akan aku buat pula catatan denga warna kertas yang baru, yang bertepikan kepastian dan syair – syair hidup penuh makna.
       Tapi kembali untuk kesekian kalinya dalam episode malam yang penuh kebimbangan,,  berkelebatlah bayangan hitam,  sebuah tirai hitam masa lau. Yang telah lama aku campaka.  Kini telah berdiri kokoh, dan menjadi penghalang bagiku, yang sudah mulai terbangun di tengah dinding putih. 
        Seraya  membenamkan suara parau ke dalam dadaku, diiringi kedua matanya yang merah dan memancarkan penuh kebencian, dengan dengus nafas yang busuk dan  wajah yang bersungut, pertanda  menebarkan kebencian ke arahku.  Dengan lantang dan penuh kelicikan, dibelenggunya sayapku yang sudah  sarat beban hidup.
    “Hai. . . manusia hina !. Apakah belum cukup segala kenikmatan yang akau tuangkan pada jiwamu yang lapar dan haus ? . Apakah belum cukup. . .Hai manusia bejad ? “.
    “ Entah darimana asalmu, hai bayang hitam ?.   Apakah belum cukup juga engkau membelenggu sayap-sayapku. Padahal telah remuk- redam tulang-tulang penguat sayapku. Padahal telah aku sampaikan beribu-ribu kataku, yang menjadikan basah lidahku, untuk menolak semua  kesemuanmu itu. Enyahlah kamu !. Arungi saja laut kenistaan yang memang dari situ asalmu “
     “ Sudah miringkah kiblatmu ? Sudah bosankah  engkau dekat denganku ?. Apakah begitu saja sumpah setiamu engkau ganti dengan cacian hina. Dari tenggorokanmu yang dahulu aku basahi dengan air tawar pendingin nafsumu “
     “ Hai… jangan engkau  bicarakan nafsu.  Karena keangkuhanmu, mana mungkin engkau akan mampu membedakan air sejuk yang sanggup melapangkan dada seisi bumi dengan air yang membuat kedua mata manusia menjadi nanar. Sekali lagi jangan kau ungkapkan  tentang nafsu ! “.
“ Mengapa engkau berkata begitu ?.  Kalau kau telah  tahu akan semua yang ada di balik langit biru. Mengapa engkau dahulu menghadirkanku guna
      Semenatara itu sudah tiada lagi selembar daunpun yang bergerak dihembus angin malam. Lantaran malam telah terbujur kaku,  kembali malam penuh keraguan dan kebisuan
 yang tidak lagi mampu aku baca. Lantaran aku telah larut dengan diriku sendiri, yang telah akrab dengan titian sisa malam yang terang benderang.
        Sementara itu sempat aku kibaskan tangan kananku, yang telah dilengkapi dengan pedang yang tajam dan beruntai permata, untuk menunjamkan dalam-dalam ke jantung bayangan hitam hingga bercerai-berai, menjadi seonggop sampah dari masa laluku.
Biarlah sayap=sayapku kini kokoh lagi, biarlah
   Sementara dari serambi surau tua terdengar suara Adzan Subuh, yang mengabarkan tabir fajar telah  tersingkap, Saat pula semua hati harus tertunduk untuk mengikrarkan bahwa kita hanya  sesuatu yang terselip di JariNYA. Kembali aku menerbangkan setiap yang aku miliki untuk menghadapMU.