Jumat, 08 Juni 2012

Pejuang di Ujung Jaman


Lelaki  tua itu telah redup sorot matanya,
mengais  angin sejuk,  menyisir  duka
di pinggiran jalan protokol beraspal kusam,
di sampingnya meluruskan kaki,  berbaju compang camping
milik anak jaman                                
seorang pengemis muda…

“aku dulu mampu membungkam  howitzer Anjing NICA
seru laki laki tua itu, seraya menunggu kekaguman
pengemis muda mencibirkan bibir, membeku lidahnya

dengan mendengus nafas
pengemis muda menikamkan sebuah seloroh
“mengapa tak kau kenakan kerah baju jendral”
batu batuk kecil dan dalam menjawabnya
menyelipan kata, “usai sudah yang aku mampu…..
dadaku tak cukup bidang untuk menggayutkan
bintang jasa”

di pinggir jalan berumbai langit biru
adalah milik lelaki tua itu…yang mengungkung hatinya
tidak segentar membungkam “Water Mantel
di genggaman “Gurkha yang perkasa
semakin perlahan dia menyusuri jalan itu
kini sepi, dalam keranda tak berkemas
merah hati namun berkibar di hatinya

dalam keranda dia membawa tanah Sang Ibu Pertiwi
untuk di semai di halaman langit

(Tegal, 3 November 2011).

Sebuah Epos Yang Hilang

Tidakah kau pernah tahu ?
mereka datang dari jauh hanya membawa bara
untuk  menghanguskan setiap lekuk tubuh
Sang Ibu Pertiwi, aku  menggenggam pilu
Aku  mengencangkan urat nadi
tidakah kau tahu  pula,  anak- anaku?
Kita hanya memiliki
rembulan dan matahari yang saling berkejaran
untuk menguningkan padi dan tanaman jagung
agar perut kita tak menghempaskan deru

Namun mengapa mereka
menjaring angin kembara dan mengaitkan
pada sisi “negeri santun berpantai nyiur”
kita tak akan melipatkan lengan
meski kita hanya  bertelanjang dada
namun degup jantung mampu merobohkan tebing
yang mereka kokohkan
sepanjang Bukit Barisan hingga Cendrawasih

Anaku,
bila kokok ayam jantan di tebing ufuk timur
pagi berhias mentari, burung berpantun ria
dengan bulu warna warni
berbicaralah pada hari hari yang membisu
tentang lengan lenganku yang menghilang
kala memburu mentarimu,  agar tetap terjaga

(Tegal, 4  November 2011).


Manifesto Untuk Hantu Berkerah Putih

“Altar  yang kau lebarkan hingga menepi di batas Laut Kidul, gigimu menyeringai, nampaklah tangan kecil menggelepar meradang nyawa namun menepis nafas mereka sendiri. Sekawanan hantu terus saja membaca mantera, dengan jas hitam berkerah putih, hingga Nampak langit berpoles warna kebiruan namun masih berenda awan hitam”  
Pohon perdupun menyimak, meski belukar mencibir, rumput tetap saja mengokohkan sepatu  laras untuk menunjam bumi, bila sang Pemeran Jaman terpelanting dalam jurang,
Namun berjuta raut, mempersembahkan protes terhadap “mantra sang hantu”
Yang hendak mengoyakan langit.

Dan  mengusung awan hitam, bertepi racun, onak bulu bambu.
Untuk mengusir nyamuk nyamuk bertulang iga rapuh di bawah gubug bambu,

Jangan kau hadapkan punggungmu, sang hantu !. Bila liuk puting beliung menghimpitmu,
Hingga melemparnu ke Puncak Tanguruhua atau Pinistubo,
Agar kau lebih akrab dengan tabir yang dulu kau pintal setebal belacu,
Kau boleh mengajak semua yang ada di kantong bajumu
Untuk menjadi teman kala kau tersudut di sudut tragedi

Apakah belum pernah kau dengar lagi,
Saat ibu ibu di desa membawa anaknya untuk melihat dunia
Mereka bersekolah di bangunan kardus, bersandar pada
keramahan angin gunung, untuk menyisir daun daun sayur yang tumbuh
Di sepanjang  kebun penuh harap, sedangkan atap sekolah mereka
selalu bergoyang ditiup angin ketidaktahuan

Atau kau lebih memilih
Bernyanyi simphoni riuh rendah yang mampu merobohkan warna pelangi
Kala hitam tidak sepantasnya bertaut dengan jingga,
Atau biar saja “wedus gembel”  menjadi merah membara
Menyodorkan sudut jantung yang berkawan sembilu
Kemudian menusuk tiap yang kita miliki             

 (Tegal, 4  November 2011).

pak guru


kau tetap ada,  meski di pinggiran jaman
meski  telah penat dalam kerlingan mata,
siapa saja yang tak sepi dari haru biru ornamen hidup.
jalan panjang tetap menunggumu, untuk menggapai
menyemai sekumpulan daun padan di taman hati

jangan kau sedu kedua tanganmu,  demi……
bocah-bocah bermata kosong, yang berkemas dalam
hidup di jaman tak tentu arah
merekapun tak mampu memilih “jendela langit”
karena tertutup  awan yang terhempas liuk jaman
kau jinjing sebelah tangan mereka ke arahnya.

sedangkan tangan lainya, kau gurati
dengan nilai hidup dan pelipur lara
kala kedua mata mereka terbelalak
dalam lakon dunia yang sarat tipu daya
“Selamat Pagi Pak Guru”

(Tegal, 2 Maret 2012), SemarMoncer

Kamis, 07 Juni 2012

Resah


Dalam Doaku Terbaring Resah

Hari ini kembali aku datang, dalam rentangan
sajadah bermanik pilu dan galau
Menuju sesuatu yang bersembunyi di balik bola mataku
hanya “sehalus tabir “ batas antara hati
tatkala bumipun dengan “vulgar” merentangkan tali
aku gapai...lantas membujur diam

satu dua kilasan tetap aku kabarkan
hingga yang ada di “tepi tak bertepi “ tetap menjulang
aku benamkan dalam “kabar sendu” tentang
bilah nafas yang melintang di tenggorokanku
tentang “kuku kuku tajam” hidup yang
menoreh luka pada sudut jantung

aku pekikan dalam keranjang malam
tatkala sebuah mimpi dalam sepertiga malam
mematahkan sayap sayapku, sehingga aku
gapai warna warna hambar dalam catatan langit
aku harapkan mampu terkesima, namun
denyut nadi dengan tngkas menyelinap
dan mengaburkan jiwa yang terkesima
aku tersungkur dalam resah
(Tegal, 26 Nember 2011).

Hanya NamaMU

Dalam perangkap magnet dan hipnotis....
warna  nafas hidup yang melekang
dan menggigit kuat  dada yang berdinding  resah
aku terpingit, tersudut dan tertawan.
Sebuah lembut dan kokoh benang sutra
Menggeliatkan tubuhku

Kau hadir,
menyimakan sebuah kiasan
Dari perjalanan urat nadi satu hingga ujung benaku
Lantas  serpihan mutiara melilitku...
Dan bergambar Asma Asmamu

Dengan namaMU
Aku terhempas jauh ke angan di batas waktu
yang tak berbatas..meski semua pantai dan
laut lepas telah aku jenguk
Aku mengunjungi  buritan semua angin dan
mampu merentangkan semua mega ....(Tegal, 26 Nember 2011).

Syahdu

Aku ikuti saja arah gelombang lautan berbuih putih
Bila membawaku ke pada semayam beralas kain babut
Dengan dinding berlapis “tafakur”, terpaan angin kemarau
tak kurasa lagi, aku sempat meliukan segenap kemauanku
untuk menghadirkan irama jantung,
ulu hati, desah nafas dan jalangnya nadi darah
aku kuliti tubuhku sendiri
hingga mencapai batas dimana Engkau berdiri dihadapanku,
dak Kau petik satu persatu, semua yang ada di kepalaku
lantas Kau cermati luka kakiku, yang terkupas
lantaran ganasnya deru debu jaman

Engkaupun dalam halus menyelinap,
Hingga tak ada batas lagi warna jaman
Hanya ada “zuhud”, hingga memeras air mataku
Engkau dalam kesyahduan, membiramakan suara hati
Dalam titian benang benag yang tak tampak.

Akulah sang pengelana,
dari guratan tangan satu ke guratan lainnya
hingga jalan panjang tertutup batas horison
namun hanyalah kutemui batas senja bertabir hitam kelam
lantas dengan kesyahduan Kau lepas jeratan kuat, aku mulai
terkesima. Pada halus,lembut wajah malam yang Kau miliki

(Tegal, 26 Nember 2011).

Arah


arah mana lagi yang mampu mengerling mata
bila dia  harus mendapatkan kembang wangi
semua jalan telah menyentaknya  dalam lagu biru
sehalus rajutan kain selendang perawan desa
dia manusia biasa, yang kering tenggorokanya
kulit kakinya setebal asa yang hanya menggantung
di cakrawala…
selaksa ruas jalan aspal yang pongah, telah dia
jelajahi hingga tinggalah potret hidup
berteman wajah yang bergurat hitam pekat

kemana lagi dia akan melengkingkan suara dadanya
bila haru biru dalam tebing kokoh terlalu kuat
menghimpitkan  seribu beban,
 lazuardi hanya berteman diam membisu, tak ada angin kembara
agar dia mampu menyemai  kembang setaman
agar dia mampu menggenapkan pita pelangi
agar tidak ada seloroh parau burung burung
seribu warna.

sempat terlintas dalam benaknya tentang boulevard di negeri sinderella
berteman dengan kuda kuda taman, percikan air bening
membasahi rambutnya yang ikal memberi gambaran hidup
tak ada lagi  legam pipinya
tak ada lagi peluh yang menghimpun resah dan keluh
namun gambaran itupun terbawa angin liar
dan kembali dia dalam guratan manusia  manusia dengki
rakus, sombong dan durjana.


dia tak ada lagi di sini,
karena kita tak mengenalnya
seribu batang palmapun enggan menyembunyikan
dia dalam suka bersama angin kemarau
menjenguk sisi hatinya yang telah lama terkubur
kita sisakan waktu meski sepotong nafas kita
namun seribu raksasa bertangan kokoh
menjaganya, agar dia terpelanting jauh dari kita

dia dalam sepi…
akan kemana lagi ….

(Tegal, 5 Juni 2012)
 SemarMoncer