Sabtu, 09 Juni 2012

negeri tiwul dan kota pelacur


Entah memang kita pandai bermimpi…atau telah habis mimpi kita
Biar disemai saja dalam haribaan “Archipelago”
Yang bermanik Merapi, Krakatau atau Bromo,
Kita memang tidak pandai lagi, dalam merajut bunga bunga wangi
Dalam karangan yang bertepi  Jaya Wijaya dan Semenanjung Malaka
Ataukah hanya deru dan debu prosa…..
Yang sarat dengan tema “kaki ilalang”, yang menepi…
Diantara buritan yang hendak mengencangkan layar
Melaju di birunya perdebatan kata hati……
Sang bunga bangsa yang telah lenyap separo hatinya

Kita hanya mampu belajar dari sesuap tiwul
Yang menyergap hidung, mulut dan tenggorokan kita
Hingga menyampakan tuang tulang iga yang kini
telah menusuk dada kita sendiri

Kita tidak lagi berseloroh dengan rayuan pulau kelapa
Kala anak anak kita bertelanjang kaki
Di pagi penuh halimun…….
Untuk menyuapi asa pada serumpun kembang taman
Ini adalah nanar pandang mata dengan lengan kecil
Meluruh, tak lagi mampu memaksakan kepalan tangan

Negeri ini telah bermandi air bunga surga
Saat bunga bangsa memerahkan mawar dengan darahnya sendiri
Melatipun memutihkan dinding hati mereka
Hingga kenanga dan anyelir tetap saja menerjangkan mereka  (Semarang, 7 Januari 2011)

Pahlawan Pahlawan Tak Bersayap

Tak seberapa berat jubah jubah hitam, yang kau kenakan,
Harusnya pada bunga  kau sebarkan
perawan perawan…sang penunggu kebun bunga
Hingga “sang putik yang semi” mampu menyeringai pakaianmu
Mampukah kau terbang ke awan-awan yang menyimpan butir air
Yang mampu membersihkan nama yang kau usung
Sebagai pahlawan tanpa mustika yang menjerat leher…

Namun bila kau mampu menjangkau tepi malam
Yang tak pernah berujung fajar, maka kaupun tak akan
Mampu melihat putik putik bunga berseri wajahnya di pagi
Lantaran tidak mampu kau genggam arah angin
Yang menawarkan sari sari… bila putik telah bergelora.

Ataukah memang kau mengumpat pada rumah bambumu
Yang sebenarnya berona ribuan warna cat minyak
Mengapa lantaran mata yang kau pincingkan, mereka hanya ….
Terlihat suram kapur dinding, yang menyudutkan segenap
Ilustrasimu, yang kau benamkan jauh di sudut jantungmu
Tentang tanaman melati dan kenanga
Yang tumbuh di vas hatimu

Jangan lagi kau ajak tersenyum ceria jubah jubah hitam
Karena mereka adalah dihardik dari “negeri sengsara”
Yang tak patut kau tempati
Selamat  pagi pahlawanku, biar kau kenakan sayap putih
Agar kau mampu memetik bintang (Semarang, 12 April 2011)


Kota Pelacur

Lampu lampu jalan yang redup turut membunuh kota itu…kota di jantung
“Archipelago”…kubangan mandi bidadari
Yang tanpa nafas menggeliat, untuk memelantingkan rumah kardus
Di tepian sungai berwarna hitam dan menyesakan rongga dada,
Dengan langkah berat bersepatu kulit dari “Sang Koruptor” yang membuat aspal jalan
Menganga berlubang….menghardik bajaj dan abang becak,
Akupun menyelinap di sela tubuh beton pengap, tempat tawa ‘kelu’ bibir
Pucat.. untuk menghabiskan selembar demi selembar penghidupan

Noni yang hitam kelam kulitnya, namun berbibir sumbing
Melampiaskan deru eksotis Kota Pelacur ini.
Seakan sang ratu dari negeri “Anderson” dalam lakon Sepatu Kaca
Belum ada lekukan tubuhnya yang, membuatkan semilir sejuk angin kehidupan,
Sementara sang abang becak hanya mampu menjaring terkaman panas matahari
Roda rodanya berkeluh kesah menerbangkan debu debu,
Meninggalkan jejak kemaksiatan…

Dalam birama reformasi, yang tidak kunjung mengerti semua mata yang nanar
Dan menawarkan air tawar dalam gelas beralas daun pandan,
Hingga tulang rusukpun tidak ikut mengoyak jantung yang meradang
Dalam kota itu “Festival Pelacur” berlangsung dengan meriah,
Tidak ada lagi dada telanjang dari anak desa
Yang bermesraan dengan kelembutan malam, untuk menjemput bulan purnama

Bulan…!, jangan kau ikutkan angin yang tidak punya tautan
Menghardik semua yang mampu memincingkan mata pada Kota Pelacur ini,
Tapi tawarkan angin segar, agar wanita wanita di taman kota
Yang bergaun warna warni, tak ada lagi kain yang lapuk dan pengap,
Biarkan aku selipkan apa yang harus aku pegang kuat kuat
Meski Kota Pelacur ini telah kuat menggigitku
Hingga lengan ini tak ringan lagi bertaut dengan tubuhku
Kota Pelacurku, akupun tak akan menyambutmu dengan wajah
Berlipat, bergayut bulan mati, berenda gerigi ilalang

Aku sudah tidak sanggup lagi pada gelisah dan jalangnya
Tiap sudut Kota Pelacur yang ikut memercikan wajah wajah marah
Dengan tubuh yang terbujur kaku dan sorot kebencian,
Masih saja dalam sudut hati, aku susun sedikit bunga rampai kesabaran
Agar mampu kutautkan ornament “warna jingga” milik  remaja
yang sedang menggapai
Cinta…yang membius anganku
Sehingga kau tampak seperti “Taman Pelangi”
Yang berbicara dengan bahasa warna

Mari kita labuhkan sampan…bercabda angin pagi,
Biarkan sore menunggu di balik cakrawala
Berilah kepadaku jalan jalan taman, agar aku mampu menyapu
Pandangan mata yang tampak “tak sahaja” lagi
Asal aku mengenal Kota Pelacur ini dan mampu meninggikan,
Kanopi menuju persembahan kepada Sang Penjaga Langit
Agar aku mampu mengintai jalan jalan
yang penuh dengan sedu sedan sang empu liar dan jalang

Semburat warna yang menyedu dalam tiap pagi
Yang disodorkan oleh Tangan Sang Pencipta
Akan aku tawarkan agar mampu meminang canda tawa mereka
Yang ada di cerita Kota Pelacur (Semarang, 11 April 2011)

Atmosfer Negeriku

Bila lentera telah menyerpih dalam wajah menghitam
Menggantung di atmosfer menebar jelaga pengap
Ditelikung dengan bedak gincu, bertebar sembilu menusuk langit
Pantas sudah sebuah pentas hidup
Dari selaksa ilalang,
Berakar tak seberapa kokoh
Masih mendenguskan nafas di semilir
angin pagi…..tiada penat melepas galau
Kala harus menebas tabir kokoh

Ilalang yang tak kuasa menjaring angin
Harus menanggalkan tenggorokanya yang mengering
Tiada mereka pernah tahu warna pelangi
Tempat menanggalkan sebelah tanganya
Mungkin pula rona pelangi di Negeri Yunani
Atau tersangkut di padang Nigeria
Nyanyi pilupun tak mampu
Meronakan pelangi dengan nafas manusiawi

Atmosferpun kini terkapar …berdandan lusuh
Mengerang bagai singa penjaga kaki langit
Masih adakah sebilah jantung
Agar ilalang bercanda dengan kesejukan
Atmosfer menggurat langit  (Semarang, 22 Oktober 2010)

Hingga Di Ujung Langit
Kala aku sampaikan esai tentang…..
Halaman rumah biru bertebar asa
Harusnya berpintu rapat dari musim..
Yang menebar debu anarkis
Menghalau lakon dengan kerah baju
Bercorak koruptor…berenda nanar

Kita tak mungkin lagi mengusung
Detik waktu hingga ujung langit
Bila halaman  rumah bertebar duri
Bila semai keteduhan jiwa
Menyalak dengan taring tajam
Dan kuku yang menerkam leher
Negeri ini

Marilah kita sambung tali
Hingga ujung langit
Untuk bersandar anak cucu kita (Semarang, 22 Oktober 2010)


Telah HabisWaktu Kita

Ketika para dewa tidur di ketiak langit
Berbantal mega, berselimut kain biru
Berseloroh dengan hijau alam, dengan…
Duduk manja di Puncak Merapi
Membasuh badanya di Danau Toba
Maka terciptalah “Archipelago”.

Namun beranda para dewa kini..
Bersimbah air mata dan darah
Beraroma mesiu dan ego,
Adakah waktu lagi, hingga….
Lebih eksotis lagi dandanan “Archipelago”
Agar mampu menyunting cakrawala timur
Dan mengais keadilan di tumpukan…
jerami kering, melekang tak beruntai senyum
Hingga bocah bocah lugu
Masih bisa mendengar lenguh sapi …
Di negeri hijau makmur,,
Bermandi angin katulistiwa. (Semarang, 22 Oktober 2010)  


Kereta Api Untuk Presidenku
Telah berkemas semua anak bangsa….
Agar bisa menderu bersama kereta api….di batas jendela kaca
Yang berangkat dari halaman istana Negara

Sementara pagi masih berkabut,
Melewati stasiun Semanggi dan Ampera
Di atas roda roda besi
Ada seonggok nyanyi kumbang
Dengan bulu warna warni
Untuk siap meranggas padang yang
Diterkam kemarau panjang

Sang kereta apipun,
Terus melaju memecah angin muson
Di bantaran rel hedonisme dan lancung
Lantas sang kereta api sejenak
Melepas lelah, ditepian kubangan Lumpur
Yang panas dari perut bumi

Sang kereta api meradang pilu,
Dari saudara tua yang kenyang radioaktif.
Atau nyanyian binal si kulit hitam Ethiopia,
Entah dari sebrang mana Gadhafi berteduh dari pahatan bara
Bila telah hilang nyanyian para dewa  (Semarang, 16 April 2010)

langit bumi


Barangkali kita masih bisa berseloroh
Membenamkan wajah kita pada …….
Air telaga yang kembali membiru
Untuk meminang bidadari langit
Dan kita selipkan lembar demi lembar
Hidup yang mengacu pada nafas kita

Namun hitam,
Yang dapat kita temukan
Akibat mata picik dan kepala keledai
Yang membesar,  berisi kecongkakan
Di tengah hiruk pikuk jaman

Mulai kapan kita akan pasang telinga
Mulai kapan dada ini bersemayam hati
Tentang pematang sawah
Tentang menggayung air di kali bening
untuk pelepas dahaga

(Semarang, 12 Nopember 2010).


DI UFUK TANAH YANG HIJAU

Kita harus menyongsong arah angin
Untuk disemai dalam keranjang hidup
Berbekal tangis sang cucu yang merindu
Nyanyi di bulan purnama
Kita benahi lagi
Asap asap yang mengeruh di tengah
Hidup jaman yang lusuh

Bila kau terus. ……..
Membumbungkan prahara. Alampun menjadi dengki
Lantaran itu, Merapi menorehkan lagi
Kata hati, semata demi terhamparnya “nyanyian hati”
Yang menepis “gincu pupur” dari tubuh jaman
Tanpa halimun pagi penyejuk jantung
Namun yang ada…….
Hanya pesolek rebah di kaki langit


2

Kita ikat lebih kuat lagi.
Tangkai padi, palawija dan daun kacang
Agar tidak luruh terhempas “wedus gembel”
Yang disedu Merapi
Namun kita matangkan
Agar menjadi hijauan yang “asri”
Demi arah angin,
Demi gerimis perindu sejuk tawar

Mari kita pandang lebih jauh lagi
Bagian langit yang masih hijau,
Berpagar hujan dan kemarau
Yang tak menyengatkan dada yang melemah
Dan menghujamkan pilu….
Di tengah lengan lengan yang tersandar.

Kita tanyakan pada seribu sayap putih
Tentang langit yang jauh dari abu dan “wedus embel”
Yang dapat kita semai
Nyanyi pagi

(Semarang, 12 Nopember 2010).

kemarau




Berdiri di Kaki Langit
Mengapa kau sembunyikan, titik hujan di
tulang igamu
Bila kau harus lukiskan kanvas alam
Dengan warna bugenvile, melati, anyelir dan kenanga
Sudah pernahkah kau dengar,
Lenguh sapi yang menyusui anaknya, disamping peraduan
jerami yang mengering

Mereka semua kini berdiri di kakiMU
Dengan saling melempar sorot mata mereka
Seakan telah habis semua dengus nafas
Aku rengkuh apa yang harus aku ceritakan
Pada daun palma yang mengering
Pada tiap tepian belukar yang memalingkan muka
Menunjamkan dalam dalam dengan kesal
Pada air  sungai yang menghitam

Sudahkah kita semua mengatur nafas
Agar di nadi nadi kita tidak tertinggal tepian cakrawala
Yang menambatkan pelangi yang bersusun
warna warna ranjang peraduan dan “pakem”  hidup kita
Tentang lengan lengan kecil bocah…..
Yang kita papah untuk menerima suapan nasi

Tetapi kini semua mengering
dan mengadukan pada semua penjuru langit
yang halus KAU susun semua plasma tubuhmu (Tegal, 7 Oktober 2011)

Malam Bertabur Bintang

Satu dua bintang mulai bereksotis
Semakin kencang berlari jarum waktu
Semakin berani mereka mengencangkan langit
Dan kini semakin banyak mereka menyalakan
lampu lampu minyak, menggelantung
di tengah marahnya bintik hujan

Sengaja aku berhasrat memunguti bintang bintang itu,
Agar mampu merajut bintik hujan
Namun angin kemarau yang kering menghempaskanku
Dan kini menelikungku di halaman rumah yang kering
Menyendiri dalam merajut asa
Memelantingkan sorot mata kepada semua
dahan ranting yang kering dan asing

Tidak lagi lagi menyimpan jejak kaki kaki Kenari
Bahkan digantikan dengan debu yang asam
Dan mampu meluruhkan tulang belulang
Namun tidak mampu aku enyahkan
Hanya menanti semua yang telah dicatat langit biru

Dalam “jejer” para “nawangga” yang berdiri di panggung
Menyesakan dada akar akar rumput yang telah mulai goyah
Semakin menghiasi langit
Yang masih bertabur bintang  (Tegal, 7 Oktober 2011)

Nyanyian Padi

Kuning bulir padi terlihat samar, tanpa bayangan
Tanpa gemersik daun  daunya
Mereka menunda dalam perjalanan panjang
Dalam pusingan hidup manusia

Atau kini mereka telah sembunyi
Di balik gubug bambu di tengah sawah mengering
Dengan centang perentang keluhan dan umpatan
Manusia yang berlisan durjana   (Tegal, 7 Oktober 2011)
  
Dalam  Sebuah Perjalanan

Dalam perjalanan munyusur benang malam
Kita menyisihkan hardikan “Bathara Kala”
Menepiskan penat setiap sendi, yang mengencangkan
keluh kesah dari sisi bilik jantung yang kusam
Mari kita mewarnai dinding batas kita
Dengan cat berwarna putih yang kaya sulaman kain sutra
Kita ungkapkan semua yang telah menyesakan dada
Pada batas yang tiada bertepi

Bukankah kita hanya sekejap dalam menggelantungkan
semua yang kita tidak mampu simpan dalam ketiak
Meski dalam kantong baju kita
Hanya berisi “tembang dolanan” yang menggulir
Demi sesuap nasi dan secercah kuning sinar mentari
Yang menerobos rumah bambu kita yang lusuh (Semarang, 7 Oktober 2011)

5. Penatku

Jangan ada lagi umpatan
Yang mampu meruntuhkan tebing tinggi
Yang mengungkung dalam lilitan yang kokoh

Jangan ada lagi rasa penat
Dalam mengintip mendung yang menyisir
Kelambu biru

Kita gandeng alam dalam
“Panembromo” sentuhan sentuhan halus
Bila kita sekedar meraih keramahan hutan
Untuk meluuruhkan sengatan tajam
kemarau panjang (Semarang, 7 Oktober 2011)