Kamis, 07 Juni 2012

dimanakah Kau Tuhanku


aku terhempas, menjadi bayangku sendiri,
membidik  arah angin yang berderai tawa
memusari bilik kayu kamarku.
dari celah celah dinding kamar  aku memunguti kanvas
penuh warna, menusuku dengan senyum
meruntuhkan aliran darahku

aku tak mau lagi,
bila kawanan burung menerbangkanku
hinggap di puncak tebing ketidaktahuan….
kalau kasihku  mengusung galau, membeberkan raut wajah
tentang potret hitam putih segalanya…
kasihku hanya sepenggal pergulatan ini
yang aku torehkan pada dinding waktu

jangan kau hiasi wajahmu dengan air kaca
memantulkan prosa  yang kau siratkan
pada lembaran hari yang melemparkanku…hingga
ke tiap sudut kamarku…

aku hanya berteman angin malam….
dengan rengkuhan yang kokoh menyesakan dadaku
aku hanya meluaskan beranda jantungku
agar Tuhanku mampu bersemayam dalam
rongga jantung yang lapang

bintang telah aku hitung…..
rembulanpun tak lagi mampu bicara….
atmosfer yang galau telah menyelinap dalam
perguliran bumi…aku pun takan surut
untuk merenda kasih dengan Tuhanku
yang kini masih dalam deruku
dimana kau Tuhanku…?

SemarMoncer
Tegal, 4  Juni 2012

Kedamaian yang Dirindukan Semar


Nampaknya semakin jauh panggang dari api, bila kita bersama mengharapkan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Bumi Katulistiwa ini. Hal ni disiratkan dengan realitas yang ada, bahwa jiwa seseorang yang seharusnya tak terkira nilainya, namun dewasa ini nilai jiwa manusia Indonesia serasa menjadi sangat murah. Tentunya kita masih mengingat tewasnya seorang suprter Persib etika melawan Persija di Stadion Gelora Bung Karno Senayan Jakarta beberapa pikan silam, kemudian disusul sebuah realilta tentang tewasnya seorang suporter Persebaya yang etwas ketika Persebaya bertanding melawan Persija di Surabaya. Belum lagi kasus bentrokan bermuatan sara yang terjadi di Papua, yang juga memakan korban jiwa.

Akhirnya timbul sebuah wacana dari sanubari kita, mengapa kedamaian yang kita pernah rasakan karena sebuah perjuangan melawan penjajah di masa revolusi lebih mudah kita dapatkan ketimbang era reformasi ini. Sehingga sebuah pertanyaan dari kitapun menyeruak ke tengah atmosfer, mungkinkah kedamaian yang sekarang akan kita peroleh didapat karena turun dari langit begitu saja ?.Tanpa kita sematkan lantaran pencerahan dan kesadaran kehidupan berbangsa dan bernegara dari kita semua ?.

Seorang manusia Indonesia yang paling dungupun mampu menjawab, bahwa wacana tersebut tak mungkin terealisasi tanpa kesigapan kita dalam menyingsingkan lengan baju. Namun apa daya waca tersebut semakin sulit direalsasikan, justru secara kontroversi terjadi di era reformasi yang diidentikan dengan supremasi hukum, keterbukaan antar kita semua, kebebasan pers, kebebasan berbicara dan berpolitik, revitalisasi fungsi TNI menjadi fungsi pertahanan negara semata. Serta optimalisasi fungsi pendidikan guna menuju manusia Indonesia yang berkarakter.

Namun pada kenyataan langkah kita untuk menuju titik akhr sebuah reformasi semakin tidak jelas, dengan menorehkan perilaku perilaku kontroversi dan abmroalitas pada manusia
Indonesia yang terus saja bergulir, terutama para oknum petinggi kita yang yang miskin suri teladan terhadap grassrote manusia Indonesia, baik oknum pejabat negara dari daerah hingga pusat atau petinggi partai yang semain mengisaratkan suatu kegamblangan tentang mentalitas oknum petinggi partai kita. Apabila keadaan sudah demikian tinggi tingkat distorsi moralitasnya, lantas siapa lagi yang bakal membela nasib si kecil yang semakin terjebak dalam berbagai pendzoliman, seperti mahalnya biaya pendidikan di sekolah negri dan kesulitan lainnya.

Nampaknya kita sudah lupa dengan tujuan reformasi yang semula kita usung, tinggalah kini sebuah orde transisi yang  kita miliki. Sebuah orde yang bercirikan kegamangan semua sistim yang kita miliki di tengah masyarakat yang gamang, yang telah mengalami krisis jati diri. Sebagian masyarakat mengokokohkan sikap berbangsa dan bernegara dengan identitas tertentu dan sebagian lainnya mengusung sebuah identitas lainnya. Sebagian masyarakat Indonesia lupa diri dengan hidup yang eksotis dari hasil korupsi, tanpa sedikitpun beban moralitas yang ada, sedangkan sebagian lainnya menganggap korupsi adalah pengkhianatan terhadap diri sendiri, masyarakat dan negara.

Bahkan sebagian pendidik menganggap hal yang biasa dengan pencurangan UN , sedangkan sebagian lainnya menganggap pencurangan UN pada peserta didik adalah tindakan perusakan jati diri generasi muda.

Padahal kedamaian yang melngkungi suatu bangsa yang merdeka tentunya diawali terlebih dahulu dengan kesepakatan kita bersama dalam menjaga dan melestarikan nilai nilai dasar yang berlaku di negara tersebut. Barulah sebuah kedamaian tentu saja bisa turun dari langit. Namun sebaliknya apabila kita melupakan ini semua, maka kedamaian yang turun dari langit sampai kapanpun tak bakal mampu kita peroleh. Tentu saja kita mengetahui bersama bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan merubah asib suatu kaum, apabila kaum itu mampu beritikad dan berbuat untuk mendapatkan prestasi gemilangnya.

Di lain pihak apabila masa transisi sebuah bangsa tidak mampu kita lewati, maka sebuah ancaman bunkan tidak mungkin akan kita dapatkan , yaitu sebuah integrasi yang sangat merugikan kita bersama. Jadilah sebuah isapan jempol belaka tentang kedamaian yang bisa turun dari langit***

Sabtu, 02 Juni 2012

nyanyian yang kudapat dari dia


pesta lampu sang mentari terlipat di balik awan
kelambu kabut hitam kelabu, menyisir  wajah sang Merapi
aku berlari, menyambangi butir demi butir kabut itu
sementara senyumu menerbangkan aku lebih jauh lagi,
untuk singgah di puncak Merapi
untuk menata bilah demi bilah rajutan hari
kau tetap dalam senyum

di Ketep hingga Parangtritis, hari hari itu memingitku
tetap kau hidangkan secawan kasih, bergula ceria
meski tebing tebing Parangtritis membisu angkuh
ombak Laut Selatan tak henti menerkamku
namun mereka hanya mampu bersambang  di bali pasir pantai
aku tetap mengembangkan sayap,
untuk menjenguk cakrawala lembut di balik
bilik jantung
tentang kau dan aku

kau dalam selimut ceria
kau selipkan kembang tujuh warna di telingamu
kau tak  harap istana pasir terpagut ombak
kau hanya bertabur ornamen kasmaran
dalam rengkuhan langit Laut Kidul, dalam nyanyian suka
bocah bertelanjang dada mengejar ombak,

di Ketep kau menggambar latar Merapi
di Parangtritis kau tundukan ombak lautan

(Parangtritis, 6 Mei 2012)


pelacur dari bibir neraka


memang kita belum mampu merapikan pagar bunga
pada halaman rumah berdinding rajutan ilalang,
berlantai tanah yang menggeliatkan nafas yang berlalulalang
memburu tirai jaman, yang tertusuk jarum waktu
hingga kita terlentang, dalam atmosfer kemunafikan

satu dua bilik bambu kita lewati
dari jaman negeri ini meradang dalam nanar merah darah
hingga senyum semu dari “perlente”, yang berkerah baju sutera
tiada pernah punya rasa malu, terpinang angin tenggara
yang ganas dan bergigi pongah

kita lebih memilih seloroh pelacur berliuk tubuh anyir
yang bangkit dari bibir neraka, yang membenamkan
kepedulian di tengah lumpur hitam
bersendi tulang rapuh dihempas prahara Papua dan Negeri Serambi
telah kering sudah peraduan pengantin baru
di balik kelambu biru malam, bersimphoni belalang padang.
kita enggan mentautkan angin segar dari beranda
Jaya Wijaya hingga Bukit Barisan.

mengapa tiada lagi stambul dari para pujangga
dengan untaian kata santun dan senyum tipis
semesra ibu ibu dari negeri yang menyodorkan sarapan pagi
dengan secagkir kopi hangat dan ubi rebus
menyambut pagi dengan “Gamelan Jawa” dan “Serampang Dua Belas

kita hanya pandai menjinjing amarah di tepi jantung
tak ada lagi, anak desa berlarian mengejar kupu kupu
di tengah padang menghijau, menautkan empat cakrawala
kita hanya mampu menghempaskan debu konflik
menyesakan dada dan nafas yang saling memburu

kita kaya dengan kepalan tangan
dan makian pada semua yang berjejer di remang panggung opera
kita tiada lagi di tengah “Tarian Santun” di benang katulistiwa
hingga senja di pantai menuggu biduk kertas untuk berlabuh
mari kita buka jendela langit
agar benang putih mampu menjemput doa kita

(Tegal, 27 Februari 2012)

masih sempat ku bernyanyi untukmu


Tuhan, jagalah malam ini…..
agar  dendang rembulan berliku di lekuk kasihku
“seribu kunang” kuberikan, tak mampu menepis kesah
dalam benang benang malam yang halus
milik kasihku…
yang menggambar  dalam sisi jantungnya

aku melembutkan denyut nadi jantungku
sendiri aku mengembara, menyunting bintang
menjemput binalnya sinar rembulan
agar membawakan es krim cinta
dalam sulaman kain berbenag emas
kita arungi bersama meradangnya malam
dari sisi bintang ke bintang lainnya.

Aku masih bernyanyi untukmu
kau reguk saja dalam rasa cinta

(Tegal, 2 Juni 2012)