Kamis, 31 Mei 2012

berdiri di benang kodrat



Hanya sepotong baju, namun telah penuh mozaik
direnda resah, semua benang tak harus  “genit” dalam warna,
terus menantang angin, meski tepinya tak kokoh
berpegang pada petuah langit,

Aku terperanjat,
di sela anyelir
membidik dan menghempaskan
semua putik dan sari
hingga lunglai kelopaknya
Hanya engkau yang ada

Setiap yang dijinjing, menunggu “Sang Pembawa Warna”
untuk menautkan jingga di ketiak pelangi,
sementara praharapun berselingkuh pada
birama yang tak lapang...sepi

aku tetap meniti  jalan kodrat
meski samar tak harus mengurungkan niat
angin pagi dari setiap lekuk alam
telah aku gapai.....
dengan seutas senja yang merabun
aku  yang tertatih, tanpa memungut episoda yang hilang
aku yang sendiri dalam diriku.....(Tegal, 17 November 2011).

bertepi pelangi
bila kuberikan sepotong dahaga
Engkaupun  menuai dengan sebuah telaga,
bila aku sodorkan sekerat singkong rebus
dari usungan hidup
engkaupun tajam merenda warna pelangi

bila kita adalah belukar, maka janganlah
kita saling mengenyahkan rasa,
engkaupun tulus tersenyum
untuk biji mentimun yang semi
menjaga warna langit
dalam biru yang menelikung peraduan

sebuah hasrat,
adalah pewarna dinding kamar pengantin
berkelambu jingga.... di tepi senja
pelangi inipun milik kita berdua..... .....(Tegal, 17 November 2011).

dalam detik
kita yang terbawa kereta waktu
entah di pemberhentian mana
kita menukar baju,
hingga daun-daun palma
memberikan sekilas kagum

engkau yang bergaun milik Putri Kaca
tak pernah mengerling mata
pada jalan tanah liat
berbatu durhaka,iri dan dengki

dengan kembang setawan
kau urai semua prosa dalam “kelam dan benderang”
skulah yang memiliki detik ini
sementara engkau memberikan kado
pada detikmu sendiri
kita dalam detik demi detik.... .....(Tegal, 17 November 2011)


bungalow berdinding bambu
meski hanya kecil, dikelilingi “peluh dan kulit legam”
dari bambu yang tak melapuk,
Namun sebuah prosa nukilan sepotong hidup,
telah bersatu dengan “gaun berenda biru”
milikmu

tiada satupun debu dan deru
mampu mengemas dalam angin pasat
yang memisahkan kita pada dua cakrawala…
bungalow kitapun masih menghitung waktu
untuk menyambut datangnya tahun baru

kala perdu dan belukar, ikut terbang
mengikuti kemana arah “kembang api jaman”
namun tak akan memasang gendang telinga
pada terompet yang melengking
menggulung “negri santun”.

kita hadapkan pada yang
menggiring dan meniup angin,
biarlah bungalow kita nampak senyap
asalkan lidah kita telah basah, memasang benang
ke langit biru…......(Tegal, 18  November 2011).

 sayur asam
kita hanya mampu  menopang diri kita,
dalam pilu, resah dan was-was
tentang berputarnya bumi,
ke arah tak tentu, hingga tertinggalah
bilik “rumah gadang”  dalam perjalanan
memburu waktu

Kita hanya menyandarkan pada rasa,
Sayur asam dari bumbu kebon kita
Apalagi “Hotdog” dan “Hamberger”
Hanya ada di meja noni dan menir,
telah menggeliat, menelan mentah mentah
kita yang  tak punya harap

Namun dalam rasa sayur asam
Kita berbagi kemarau dan hujan
Meski hanya di atas meja bambu
Inilah bumi………
Tempat ilalang bermandi kasih ….( Tegal, 18  November 2011).

galau di hati


mendung  di langit

hantu hantu ….
dari balik awan hitam, melontarkan mantera
pada rumput negeri “mandi bidadari”

kala  disodori  bunga warna-warni
beralas nampan berenda bunga emas
langit hitam pekat menepisnya, menghardik
dan mencoba membius “gelora” anak jaman
yang terpingit dalam tirai kelam
beraroma kebusukan jiwa…
kita  di dalamnya

ke mana lagi mereka akan merebah,
bila peraduan telah dihempas anak negeri
bersepatu pantovel dan berkemeja negeri sebrang
dan kerikil tajam tempat mengadu sang keluh
telah menggigit kulit kaki telanjang
haruskah mereka ganti dengan kepalan tangan….(Semarang, 7 Desember 2011).

bangkit
sebuah teriakan panjang, dari punggung Mahameru
bergema suara  malaikat malaikat berjubah hitam,
bersama angin keing kerontang, berkawan durjana
memantul ke semua hunian perdu dan belukar
dada dan lengan kecil  menurunkan sorot matanya
kelopak dan tangkainya, menyambangi
huma dan belalang untuk menyambutnya,

meski berpaut pada  sawah dam ladang
mereka terjaga, untuk menjaring angin gunun. (Semarang, 7 Desember 2011).
.
Tidur Panjang
mengapa mesti sebuah tidur panjang,
bila lentik sinar matahari menyelinap
pada retakan dinding papan rumah kita
tubuh inipun akan tersengat,
oleh roda- roda lapar dan geram menerjang
menelan hidup kita, ….(Semarang, 7 Desember 2011).

lampu jalan
jalan jalan berambut baliho dan berbibir reklame
arah kota itu, bertindih dengan deru debu milik nafsu
rumah rumah kardus adalah senyum kota itu dalam duka
mereka berpaling dari lampu lampu jalan
taman taman kota menerkam kepalsuan
aku tersudut di dalamnya,
kota itu berhias bedak pupur  dan  malam jalang

 (Semarang 22 Mei 2012)

di antara dua batas tak berujung


derai tawa dalam  lesung pipimu,
tak peduli di sisi bukit mana kau simpan
lantaran telah retak sendi sendi tulang
catatan pada bintang gemintang, telah
terbawa resah hati, menyudut dalam ketidakmengertian
kau terselip dalam duka lara
hingga meluruh lengan lengan kecilmu

aku dalam kota pengap
dalam batas pandang bilik berdinding kardus
pelacur pelacur jaman telah membidikan durjananya
hingga aku sekarat tercabik deru debu monster monster
saat lampu lampu jalan merayuku,dalam ornament
seribu warna…
hingga atmosfernya tak mengenali aku lagi

kita adalah petani dalam sawah harap
bermodal benih hasrat, dan wangi Anyelir
dalam mega bersusun warna pelangi,
kita titipkan pergulatan hidup ini
antara kau dan aku hanya mampu menghitung
angin musim, untuk merebah dalam penjuru langit

kita tak mungkin berhenti terbawa titah
aku tawarkan secawan penawar dahaga
untuk peraduan bertirai benang sutra
kau hanya melempar pandang
pada sudut kamar  bantal bersusun tujuh,

aku dalam jalanku sendiri, tak berujung
bertepi pada diriku sendiri
sepi…..

Semarang, 1 Juni 2012



aku sendiri


aku mennghardik hari…
diam membisu
benang waktu lancang menolehku
aku berang, kusimpan
embun dalam dadaku,
lepas bebas seperti kumbang jalang

semakin terang penjuru
cakrawala mennghadangku
aku menyelinap
dalam bayanganku  sendiri.

lepas bebaslah
tiap yang melingkungiku
akan kuadukan pada balik tebing
yang kosong beratmosfer bara api

 waktupun melentingkanku
pada prosa bisu seribu bahasa
aku binasa oleh kuku tajamku
aku menghambur kembali
menjadi angin gunung memungut
jiwaku sendiri

(Tegal, 1 Juni 2012)