Sabtu, 02 Juni 2012

malam pertama ini untukmu

Bintang malam ,
menjadi  menyurut  pesonanya…bulan
tak kentara lagi membalikan wajah  malam
karena terpenggal satu dua nafas memburu,
kau ikat mereka menyelip di kelambu pengantinmu
aku tawarkan…pada sunyi berlarinya hari
namun kau memungutnya
hingga jarum waktu  membentak
haripun terbawa sayap seribu malaikat.

Aku bentangkan kebun bunga, agar
kau menggauli,  lepas semua sendi tulangmu
kau menerimanya…
akupun berkalang rembulan yang bernafas dengan
peluh…
kau menganyam beludru jingga, merah jambu
kelambu pengantin memang milikmu.

Hari hari telah jauh tertinggal
karena kau rajutkan peluh  dan nafas
dalam simphoni rindu…milik Dewi Supraba di
Indrakila. Aku menorehkan dalam setiap bentang
daun palma….agar  mengabarkan lewat angin
kita tak punya lagi saling menyayat hati.

Kau lumuri kanvas dalam lukisan alam
yang tanpa satupun bergambar gurat wajah,
terlipat karena eksotisnya kehidupan
lantas aku terima,
dengan menikamkan seribu  rona membara
hingga tak terdengar lagi gurau dan seloroh
semua terlipat dalam gelap malam
hingga rintihan terakhirmu,
meluruhkan tebing dan wajah malam
(Tegal, 22 Januari, 2012).


malamku yang sepi


malamku yang sepi ini
bagai malam milik sang pejaka,
kala menyelipkan kembang tujuh warna,
pada daun telinga perawan desa,
yang bergelora dalam kelambu sutra biru
bintang gemintang melentingkan seluruh sinarnya
hingga hinggap di lazuardi bertatap nakal

malam bertambah sepi…
ilalang bertambah merapat…
angin kemarau bertambah garang
berpusar menampakan tajamnya
gigi taring, wajah menyeringainya
membuang jauh jauh
semua babak manusia,
akupun bertambah berani…..

aku berkelana setiap sudut waktu
fajarpun hanya berhias senyum bintang kejora
aku  kencangkan perahu malam, sang rembulan….
bertambah binar  bedak gincunya
sesekali aku berikan bait prosa
tentang hidup, tentang drama dari negeri kaca
untuk menjemputmu sang kekasih

kita dalam lakon di atas pohon pisang
kala “blencong” kita punguti sinarnya
kita kembalikan dalam realita hidup,
kaulah sang lakon perjalanan denting waktu
aku hanya diam dalam rajutan sutra biru
aku berhias seribu bintang

(Di suatu malam 5 Mei 2012)

Kasihku

Terbanglah tinggi
menyusun awan,
aturlah nafasmu
agar langit tetap berlingkung
pagar rumah kita
halaman depan bersemi bunga
kau dalam gayutan
aku dalam senyum

(Di suatu malam 5 Mei 2012)

lihatlah malam ini


bila kau tanya diriku...yang menyepi
lihatlah malam ini. Lantas kau taburi dengan bintang,
agar sinarnya tidak perlu engkau raut,
dari sekumpulan “marah dan egomu”
yang hendak melempar matahari jauh-jauh             
ke batas langit.

bila kau telah bosan padaku..yang terpingit
pergilah ke tiap penjuru malam ini
Nyanyian rindumu telah tersembunyi
Karena malam ini begitu rakus menyimpanya

bila akan kau ganti tanaman cintamu....
dengan anggrek bulan
tengoklah malam ini....
semua perdu telah membius, dipagut kejamnya
dingin malamku

bila kau benci.padaku...yang memburu
berpalinglah dari malam  kala kau terpejam
tak perlu kau ganti dengan nyanyian ombak
yang menghempas tiap bilah diriku

bila kau ingin lari dariku..
di batas kota.
kejarlah angin malam ini..
akan kusodori secawan air sorga
hingga lepaslah dirimu dari                 
keringnya angin kemarau di tengah padang

(Tegal, 30 Oktober 2011).



Tak Ada Lagi Rindu

Jangan kau terburu melekatkan ornamen
mawar merah pada kamar pengantin, agar..
aromanya tidak menerbangkan kebusukan
sedangkan duri durinya
menyampaikan kata makian
hingga leherku menjadi terjerat dalam sepi

Nyanyian yang kau buang......
jauh ke belukar, telah menghimpit pagi
sehingga dinding rindupun terluka...
tersedu dalam membaranya
awan jingga yang berkemas dewi amour

aku sigap dalam melipat hari
agar aku terlempar jauh ke..indraloka

(Tegal, 30 Oktober 2011).




Jumat, 01 Juni 2012

untuk sebuah harap yang kau berikan


pada gugusan bintang gemintang
pada sekumpulan lampion kertas warna warni ; menghantarkan
dirimu menuju “altar suci” untuk sebuah ikrar; senja tak lagi merebah
menuangkan sisi hatinya pada perahu layar; yang selalu mengencang
sorot matanya; ombak ombak berdesis bisa
yang melumpuhkan lambung perahu; kau jaga tautan perjalanan
pada empat penjuru langit, di sana aku mengayuh angin
merapikan pematang sawah

kau masih menyisakan suara sayup
gamelan jawa yang memantul dari sisi cakrawala tentang
tembang tembang kasmaran milik penghuni  di balik awan
awan putih bersih,
akupun hanya merasa sengau; namun aku biarkan
semuanya bermatomorfosis dengan ikatan bunga dan bulan

(Tegal. 16 Mei 2012).




kutanyakan langit bumi




mengapa kita tak sederas air kali
yang sigap mengucuri sawah ladang dengan air
obat dahaga nafas yang hanya sampai leher
pada mentimun  dan lobak yang kembali
menggapai angin, dari lekukan bukit-bukit
sepanjang cakrawala.

mengapa kita tak segesit pipit di dahan cemara
kala pagi, siang dan sore selalu saja menggambar prosa
tentang ketidakraguan, mengepakan sayap mencuri ceria
dari padang luas tempat “sang dajjal” mengumbar kesumat
di seputar atmosfer berdebu nanar dan buruk sangka

mengapa kita tak bertanam semerbak wewangi
aroma kemanusiaan,
padahal putting beliung telah merapatkan kaki
berbaris sepanjang “Negeri Archipelago”, berpagar
ratna mutumanikam, kita hanya mampu menguntai
nada parau, ditikam burung hantu yang mengepalkan tangan
“sang dajjal” telah menderapkan langkah , menebarkan
debu musim kemarau yang pengap dan anyir.

mengapa kita tak setegap petani desa
yang sahaja dari pacuan kuda binal
menerjang sisi hati setiap yang berbaju petinggi
bergigi pongah dan bibirnya yang sumbing
terus melengkingkan atmosfer hitam dan kotor
di istana berajut lengan lengan lemah sepanjang dindingnya

mengapa kita tak pandai
berbasuh air sejuk dari Puncak Semeru atau
menghangatkan badan ari bara api sepanjang
bumi Papua, yang tak mampu membendung
air matanya.

selalu mestinya kita bertanga
pada langit dan bumi

(Tegal 17 Maret 2012)